|
Air
Oleh: Kukuh Widyat
Saat Anda dan saya dibabtis sebagai
tanda murid Tuhan Yesus, air menjadi elemen penting. Pencurahan air
ke dalam diri Anda dan saya merupakan simbol kebersatuan dengan
Allah Bapa.
Saat haus, air menjadi elemen yang mendasar. Air
menjadi pelega di tengah dahaga. Air menjadi penyejuk di tengah
kekeringan.
Saat mencuci, air pun tetap menjadi hal penentu.
Dikatakan mencuci jika ada air. Air tetap diperlukan.
Saat dehidrasi, pertanda tubuh Anda dan saya
kekurangan air. Apa yang terjadi jika hidup tanpa air?
Sebaliknya, apa yang terjadi jika sehari-hari
Anda dan saya terendam air. Air ada di mana. Bukan hanya di tengah
jalan tetapi di dalam setiap ruang dalam rumah. Jangankan ketinggian
air satu atau dua meter. Satu sampai lima sentimeter saja. Apa yang
terjadi?
Inilah situasi yang kita lihat rasakan bahkan
alami. Air ada dimana dengan gerakan yang menakutkan. Dengan
ketinggian yang mengerikan. Air menggenangi kampung, desa bahkan
kota, terlebih ibu kota.
Keadaan demikian mengingatkan saya dengan cerita
air bah. Tahun 2004 kita “dipertontonkan film Tsunami”, tahun
2008 diputar “film air bah”. Firman tentang air bah dalam
Alkitab sungguh-sungguh nyata saat ini.
Allah Bapa sungguh mewujudnyatakan firman-firman-Nya
kepada kita semua. Allah Bapa sedang berkarya dalam acara “reality
show” bagi kita semua yang makin hari makin jauh dari kehendak
Bapa. Kekerasan terhadap sesama manusia makin menjadi-jadi.
Perlakuan kita terhadap alam semakin semau gue sendiri. Tanpa mau
menjadi alam pun juga milik Allah Bapa.
Bagi manusia air dianggap hal sepele tetapi bagi Allah Bapa, air dapat dipakai sebagai media
berkarya Allah Bapa demi mengingatkan, menyadarkan kita
semua. Allah Bapa mampu berkarya lewat hal sepele
yang dianggap manusia.
Marilah
kita mempersiapkan hati, pikiran dan iman Ilahi sebaik-baiknya bagi
setiap karya Allah Bapa dalam kehidupan sehari-hari.
Amin.
|