|
Jangan Abaikan Mezbah Keluarga
Oleh: Manati I. Zega
Fakta membuktikan tingkat perceraian di negeri ini meningkat dengan sangat tajam. Dari tahun
ke tahun angka dan berita perceraian terus meroket. Tragisnya, hal itu tidak hanya menimpa kaum awam. Tapi,
orang-orang yang digolongkan figur moralpun mengalaminya. Dalam suatu kesempatan, seorang majelis
jemaat sebuah gereja pernah berkata demikian, “Pak Zega, apakah Bapak tahu kalau pak Pendeta X itu,
sekarang sudah menikah dengan seseorang”. “Dia baru saja dipecat oleh sinode gerejanya karena ternyata
sepuluh tahun lebih berselingkuh dengan wanita itu”, tambah majelis itu menegaskan. Wah, sungguh gawat.
Tidak main-main orang yang dianggap rohanipun tidak
imun terhadap masalah yang satu ini.
Memang harus diakui banyak faktor penyebab terjadinya perceraian. Diantaranya: perselingkuhan [masalah PIL
dan WIL], masalah ekonomi, ketidak cocokan dan segudang alasan lainnya. Ya, apapun alasannya, yang
jelas tiang-tiang penyangga rumah tangga semakin rapuh. Sedikit saja masalah, solusi yang “dianggap”
baik adalah perceraian.
Dalam tulisan ini, saya berusaha menawarkan solusi yang sekiranya dapat menginspirasi kita. Masalah itu
tentang Mezbah Keluarga. Tahukah Anda, mengapa masalah-masalah seperti diungkapkan di atas terus
melumpuhkan banyak keluarga, termasuk keluarga Kristen? Salah satu penyebabnya, yakni semakin
minusnya “pemupukan rohani” dalam keluarga. Masyarakat perkotaan masa kini semakin sibuk dan sibuk bahkan
tenggelam dalam kesibukan yang semakin menumpuk.
Akibatnya, tidak punya waktu untuk bersekutu kepada Tuhan. Padahal, persekutuan itu sangat penting.
Penulis Ibrani berkata, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti
dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya
menjelang hari Tuhan yang mendekat”. [Ibrani 10:25]
Dalam aksara CINA, istilah sibuk berarti kematian hati. Kematian hati berarti hilangnya kepekaan
[terhadap Tuhan dan sesama]. Orang yang sudah kehilangan kepekaan melakukan apa saja tanpa merasa
bersalah. Orang yang kehilangan kepekaan membuatnya melakukan apa saja tanpa merasa orang lain tersinggung
dan disakiti.
Berefleksi Dari Kisah Nyata.
Mengawali tahun 2008 ini, tepatnya 1 Januari. Di gereja tempat saya melayani, seorang Bapak mengisahkan
pertolongan Tuhan atas keluarganya. Keluarga ini selama empat tahun selalu saja ribut dan ribut.
Isterinya terus mengomel. Tiada hari tanpa mengomel. Berhentinya hanya pada saat tidur saja. Sebagai
manusia biasa, suami sangat tertekan dengan kondisi demikian. Kalau sehari-dua hari tidak masalah. Tapi,
masalahnya hal ini terus dilakukan bertahun-tahun. Bapak yang berprofesi sebagai penjual bakso ini secara
manusia tidak tahan atas omelan isteri yang sama sekali tidak membangun. Tidak berlebihan jika
dikatakan, hati wanita itu terbuat dari batu. Kerasnya luar biasa.
Pemicu keributan adalah masalah ekonomi. Rupanya, ketika memulai usaha bakso tersebut, mereka meminjam
uang dari rentenir. Akibatnya, mereka terlilit utang yang luar biasa. Setiap hari setidaknya Rp. 380.000,
-- Rp. 400.000,- harus disetor kepada rentenir tersebut. Padahal, untung dari jualan bakso tidaklah
sebanyak itu. Utang terus bertambah, hidup tambah susah. Puncaknya, isteri mulai goyah imannya. Bunuh
diri mulai terlintas dalam pikirannya. Pergi kedukun menjadi pilihan lain.
Syukurlah suami mengingatkan bahwa semua itu bukan solusi yang bijaksana.
Pemicu lainnya adalah tidak punya rumah. Sudah lama berdoa untuk mendapatkan rumah, namun tidak kunjung
tiba juga. Utang ke Bank untuk mendapatkan rumah, uangnya dapat tapi rumahnya telah dibeli orang. Daftar
kekecewaan bertambah lagi.
Walau sering geger, namun keluarga unik ini selalu mengadakan mezbah keluarga. Setiap jam 04.00 WIB,
suami sudah bangun untuk menyembah Tuhan. Isteri juga demikian. Pasangan ini setia memulai harinya dalam
hadirat Tuhan. Mereka berdoa memohon berkat Tuhan. Dalam doa, mereka meminta rumah supaya dapat
mengembangkan usaha bakso tersebut.
Tanggal 16 Desember 2007, Tuhan membuat kejutan di luar prediksi. Ketika ada acara sepeda
bersama Artis ibu kota di kota Surakarta. Suami ingin ikut acara itu, namun untuk membayar tiket seharga Rp. 30.000,-
saja tidak mampu. Tuhan kirim “burung gagak”. Seseorang membelikan tiket untuk Bapak yang cinta
Tuhan itu. Siapa nyana, dari tiket itu mereka dapat hadiah rumah bernilai jutaan rupiah sebagai hadiah
utama. Tidak ikut sepeda bersama artis, tiket dibelikan orang, namun hadiah utamanya diperoleh
keluarga yang setia kepada Tuhan tersebut. Benarlah Pemazmur ketika berkata: “TUHAN dekat pada setiap
orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan”. [Mazmur 145:18].
Mendapatkan rumah itu bukan kebetulan, sebab ribuan peserta mengingininya. Tapi, Tuhan tahu kalau keluarga
itu sangat membutuhkan. Awal tahun ini, pengalaman iman bersama Tuhan mereka peroleh, diawali dengan
melatih diri mengadakan mezbah keluarga.
Mengapa Mezbah Itu Penting?
Menurut W.R.F. Browning dalam buku “A Dictionary of the Bible”, mezbah dalam Perjanjian Lama [PL] adalah
tempat pengorbanan yang didekatnya hewan-hewan disembelih dan di atasnya persembahan gandum, anggur
dan kemenyan dibakar serta dipersembahkan di alam terbuka. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa mezbah
adalah tempat untuk mempersembahkan. Istilah mezbah keluarga berarti tempat atau saat di mana seseorang
bertemu dengan Tuhan saat menyembah dan bersekutu
denganNya. Makanya mezbah keluarga itu penting.
Tradisi mendirikan Mezbah bagi Tuhan sudah dimulai sejak zaman leluhur kita. Beberapa diantaranya, Mezbah
Nuh [Kej 8:20]; Mezbah Abraham [Kej 12:7,8; 13:18; 22:9], Mezbah Ishak [Kej 26:25],
Mezbah Yakub [Kej 33:20; 35:1,3,7] dan masih banyak lagi. Dalam Kejadian
12:7 disebutkan demikian, “Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan
memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah
menampakkan diri kepadanya. Peristiwa ini terjadi tatkala Tuhan menyuruh Abraham
meninggalkan negerinya ke suatu negeri yang akan ditunjukan Tuhan kepadanya.
Saat Abraham taat, yang berikutnya terjadi Tuhan menampakan diri
kepada-Nya.
Jika Anda memisahkan para tokoh di atas dengan persekutuan mereka bersama Tuhan, maka mereka bukanlah
siapa-siapa. Mereka hanyalah manusia biasa yang juga tidak berdaya tanpa topangan kasih Tuhan. Abraham
sering disebut “bapa orang beriman”. Apakah hal itu terjadi begitu saja? Tentu saja tidak! Hubungannya
dengan Tuhanlah yang menyebabkannya menjadi seperti itu.
Kalau para tokoh iman dalam Perjanjian Lama di atas memiliki hubungan yang indah dengan Tuhan, apalagi
kita yang hidup di abad ini. Jika Anda berkata jujur, banyak masalah terjadi dalam keluarga kita karena
kurangnya persekutuan dengan Tuhan. Tanggul pertahanan yang kita anggap kuat
akhirnya jebol. Tanggul pelayanan yang kita anggap kokoh tanpa hubungan
pribadi dengan Tuhan akhirnya ambrol juga. Kekuatan “banjir persoalan” membuat tanggul yang kita bangun
dengan kekuatan sendiri akhirnya jebol juga. Saat Solo dan sekitarnya mengalami banjir bandang sejak 26
Desember 2007, dikabarkan tanggul penahan air di waduk gajah mungkur Wonogiri terpaksa dibuka karena
tanggulnya tidak kuat menahan arus banjir yang begitu kuat. Kekuatan tanggul terbatas.
Demikian juga dengan tanggul pelayanan yang kita lakukan. Banyak hamba
Tuhan jatuh karena tanggul pelayanan tidak cukup kuat menahan derasnya godaan. Saking sibuknya pelayanan,
persekutuan bahkan mezbah keluarga terabaikan. Pelayanannya menjadi berkat bagi orang lain, sementara
dirinya kering kerontang. Akhirnya, jatuhlah dia.
Beberapa tahun terakhir ini, saya sungguh mengamati, banyak pelayan Tuhan jatuh dalam hal sex, keuangan dan
kedudukan. Mengapa? Karena mereka kurang membina keintiman dengan Tuhan.
Ditelusuri lebih jauh, ternyata mezbah keluarga kurang mendapat perhatian
karena terlalu sibuk. Padahal kesibukan itu hanya menyebabkan kematian hati yang berdampak hilangnya
kepekaan terhadap Roh Tuhan. Ada baiknya kita merenungkan pernyataan Yosua dihadapan para tua-tua
Israel di lembah Sikhem. Pemimpin besar itu mengatakan, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk
beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang
kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang
negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah
kepada TUHAN!" [Yosua 24:15]. Adakah Anda berkata demikian juga?
Surakarta, 2 Januari 2008
-Manati I Zega-
|