|
Dampak Negatif Tayangan Televisi Bagi Perilaku Anak Dan Keluarga
Oleh: Manati I. Zega
Pada tanggal 5 Januari 2008 yang lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan kepala sekolah
SMART KIDS PLAY GROUP Natura Medika Surakarta. Dalam percakapan ringan tersebut, Tri Budi Santoso, M.Sc. OT –kepala
sekolah tersebut berkeluh kesah. Keluh kesahnya adalah tentang bahaya tayangan Televisi pada perilaku anak
didiknya di suatu kota. Anak didiknya tersebut berperilaku sangat kasar kepada siapapun. Dia sering
mengeluarkan kata-kata kotor yang belum pantas dikatakan anak seusianya. Dia juga tidak segan-segan
memukul siapapun yang berseberangan dengannya. Walau usianya masih balita, namun perilaku anak itu sangat
mengkhawatirkan kedua orang tuanya. Anak tersebut sempat dirujuk ke Psikolog anak karena pikirnya ada
keterpecahan jiwa dalam diri anak tersebut. Tapi, hasilnya NIHIL.
Karena kedua orang tua anak ini, bekerja di luar rumah, mereka tidak dapat memantau dari dekat
perkembangan si buah hati. Entah ide darimana, akhirnya ayah anak yang kasar itu memberlakukan
peraturan dalam keluarga tersebut. Peraturan itu adalah, selama tiga bulan, TELEVISI tidak diizinkan
menyala dalam keluarga itu. Si Mbak yang doyan nonton TELEVISI itu diultimatum. Apabila dia
menyalakan TELEVISI, maka akan dipecat. Walau hatinya berontak, namun dia menurut juga. Selama tiga bulan TELEVISI
tidak pernah dinyalakan dalam keluarga tersebut. Alhasil diluar dugaan. Anak yang tadinya begitu kasar
dan suka memukul tiba-tiba berubah lembut. Bahkan selama tiga bulan terakhir anak itu tidak pernah
memukul lagi. Demikian juga tidak pernah mempraktikan gerakan-gerakan silatnya yang selama ini terus
dilakukan.
Sekarang ketahuan biangnya! Tayangan TELEVISI telah mempengaruhi jiwa anak tersebut. TELEVISI sangat
berjasa memprovokasi jiwa anak yang masih balita itu. Pada acara “National Reformed
Conference” [NRC] di Wisma Kinasih, Agustus 1999, Pdt. Dr. Stephen Tong
berkata demikian, “Kalau Anda mau menanamkan iman Kristen sejati kepada Anak, lakukanlah sebelum anak
itu berusia 12 tahun”. Alasannya adalah pada usia-usia tersebut kemampuan intelektual seorang anak berada di
puncaknya. Dan, pada usia tersebut pula kemampuan anak untuk mengingat sangatlah tinggi.
Akibatnya, anak akan mempratikan apa saja yang diingat dan dilihatnya.
You Are What You See.
Siapa Anda? Anda adalah apa yang Anda lihat. Baik pula jika memperhatikan contoh kasus berikut ini. Acara
SERGAP Siang yang disiarkan stasiun TV Swasta Rajawali Citra Televisi Indonesia [RCTI], 15 April 2004 yang
lalu, menyatakan “Akibat VCD Porno, Pemuda Perkosa Teman Kerja”. Acara tersebut memberi laporan tentang
seorang yang bernama Husen. Husen bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan musik di Jakarta Utara.
Acara SERGAP itu juga membeberkan, akibat perbuatannya lelaki berusia 22 tahun itu harus
mendekam di tahanan Mapolsek Koja-Jakarta Utara. Mengapa harus mendekam?
Ternyata, Husen telah memperkosa Wati, rekan kerjanya yakni sesama karyawan di perusaahan tersebut.
Perbuatan tersangka terbongkar setelah korban, gadis ingusan yang masih berusia 13 tahun itu, mengadu
kepada pamannya. Korban mengaku telah beberapa kali dicabuli tersangka selama satu minggu terakhir.
Mengapakah tersangka tega melakukan perbuatan bejat itu? Dari mulutnya,
meluncur pengakuan bahwa dirinya memperkosa korban karena tergoda setelah menonton VCD
porno bersama korban di tempatnya bekerja, Jalan Toar Tugu, Jakarta Utara.
Untuk menghindar dari tuntutan hukum, segala alasan logis dilontarkan tersangka. Dia berdalih tidak
mempunyai uang untuk membayar Wanita Tuna Susila [WTS], akhirnya memaksa Wati untuk
melayani nafsu setannya sampai lima kali. Hukum pun tetap dijalankan.
Akibat perbuatannya, Husen diancam dengan Pasal 285 KUHP tentang perbuatan asusila.
Kisah di atas merupakan salah satu dari sekian banyak kasus serupa yang pernah terjadi dan melanda negeri
kita. Derasnya arus pornografi telah merusak pemikiran banyak orang. Anda adalah apa yang Anda baca, apa yang
Anda lihat, demikian kata-kata bijak yang pernah diungkapkan J. Drost, dari Universitas Katolik
Atmajaya Jakarta. Anda melihat hal-hal yang porno maka hal itu akan terekspresikan keluar yang dinyatakan
dalam perbuatan. Namun, Anda melihat yang baik dan membangun, juga akan keluar dalam realita hidup
keseharian Anda.
Bagaimana dengan Anak-anak? Sama saja! Anak-anak lebih mudah menangkap hal yang visual. Tidak heran, jika
“The American Academy of Pediatric”, tidak merekomendasikan anak di bawah usia dua tahun dan bayi
untuk menonton TV atau DVD. Sedangkan anak berusia di atas tiga tahun,
disarankan untuk menonton TELEVISI cukup dua jam setiap harinya. Bagaimana tentang hukum
di Indonesia, tidaklah jelas.
Bagaimana kita harus bersikap? Kembalilah ke firman Tuhan. Salomo dengan bijaksana mengatakan, “Didiklah
orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada
jalan itu” [Amsal 22:6]. Pendidikan rohani dalam keluarga sangat penting. Tidak boleh diabaikan atau
diserahkan kepada pembantu Rumah Tangga [PRT]. Orang tua harus merencanakan dan dengan sengaja
memperhatikan hal ini. Kalau tidak, generasi ini akan berlalu begitu saja tanpa mengenal Tuhan.
Menerapkan Sikap Selektif—AMBAK.
Dalam teori pendidikan/teori belajar, ada satu teori yang dinamakan AMBAK. Ketika seseorang belajar tentang
sesuatu hal misalnya, maka dia harus selalu bertanya AMBAK—Apa Manfaatnya Bagiku. Menurut saya ini
bijaksana. Sikap ini harus ditumbuh kembangkan. Ketika menonton acara TV dari berbagai stasiun misalnya,
bijaksana kalau orang tua selalu mempertanyakan hal itu. Adakah manfaat bagi seorang anak—remaja menonton
acara kekerasan? Kalau tidak ada manfaatnya, putuskan sekarang juga tidak usah menonton karena tidak AMBAK.
Di sisi lain, tidak adil juga jika hanya melihat sisi negatif dari suatu acara TV. Bukankah acara TV juga
ada manfaatnya? Jujur saja. Secara pribadi, saya senang menonton acara BERITA karena hal itu
sangat membantu untuk melihat kondisi dunia saat ini dan meneranginya dari firman Tuhan. Sebagai hamba Tuhan,
apalagi masih muda dan harus belajar, maka saya membutuhkan hal itu agar dapat memberikan solusi
berdasarkan terang firman Tuhan. Kembali pada prinsip AMBAK di atas. Ketika saya menonton, saya selalu
bertanya, “AMBAK”.
Sikap di atas mungkin sebagian orang kurang bisa menerima. Namun, dasar saya adalah Alkitab yang saya
yakini tanpa ragu, sebagai firman Tuhan. Paulus pernah berbicara demikian, “Segala sesuatu
diperbolehkan."Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan."Benar, tetapi
bukan segala sesuatu membangun” [1 Korintus 10:23]. Memang menonton itu hak azasi
manusia. Sepanjang tidak merugikan orang lain, ya boleh saja, demikian tegas
seseorang. Tapi, yang lebih dalam dari semuanya itu adalah, “apakah yang ditonton itu berguna?” Apakah
yang ditonton itu menggiring kita mengenal Tuhan lebih baik atau justru memunculkan ide yang melawan kehendak
Tuhan?
Ketika saya konseling seseorang—aktifis pelayanan. Mereka sudah berada diambang kehancuran
karena dua-duanya mempunyai PIL dan WIL. Wah repot! Satu kalimat yang meluncur kuat dari sang isteri dan tidak
saya lupakan. Dia berkata, “Pak, zaman sekarang perceraian bukan hal yang tabu, itu lho di TELEVISI,
kasus kawin cerai sudah biasa”. Kalau saya cerai, itu hak saya. Terlihat jelas, dalam kasus ini salah satu
penyebab perceraian terinspirasi dari tayangan TELEVISI. Karena itu, sangat arif jika kita selektif
dalam memilih tontonan jika tidak mau menyaksikan keluarga kita hancur berkeping-keping.
Surakarta, 13 Januari 2008
-Manati I Zega-
|