|
Literatur Bukan Urusan Gereja?
Oleh: Manati I. Zega
Pengalaman menunjukkan pelayanan bidang literatur di kalangan Kristen sungguh dipandang sebelah mata.
Tidak berlebihan bila dikatakan sebagai bidang pelayanan terpinggirkan. Atau, bidang pelayanan yang
sengaja dimarjinalkan. Kalau perlu “dibunuh” sebelum bertunas. Pernyataan-pernyataan ini bukanlah
pernyataan bombastis, apalagi mengada-ada. Setidaknya pengalaman pribadi membuktikannya.
Sebuah Kisah.
Awal tahun 1998, saya menjalani tugas praktik pelayanan—tepatnya “week end” di sebuah gereja yang
sudah mapan di kota Bengawan. Mapan, dalam arti dari sisi usia, gereja itu sudah lebih dari setengah abad.
Dari sisi jumlah jemaat, anggotanya telah melampaui angka empat ribu orang. Secara
finansial sudah sangat mapan bahkan mampu mengirimkan tenaga misi domestik.
Gereja ini sungguh misioner, di Kalimantan Barat telah merintis beberapa jemaat lokal bahkan sekolah dan
lembaga ketrampilan komputer.
Suatu hari, seorang penatua gereja datang ke kantor sekretariat gereja. Dan, setiap kali datang ke kantor
selalu mendapati saya berada di depan komputer. Pasti sedang menuangkan apa saja yang ada di kepala saya.
Maklum, masih fresh, karena sedang berada di tingkat akhir pendidikan teologi. Hingga selesai menjalani
masa orientasi dan akhirnya ditahbis oleh sinode pada bulan September 2003, dalam waktu senggang, saya
selalu melakukan hal yang sama. Berada di depan komputer. Memang senang dan “enjoy” dengan pelayanan
itu. Walau dalam taraf latihan, namun saya sungguh
menyenangi dunia tulis-menulis ini. Nampaknya, jatuh cinta dalam dunia pelayanan yang satu ini.
Rupanya, tanpa saya sadari penatua ini memantau apa saja yang saya kerjakan di depan komputer itu. Apa
yang saya tulis juga dimata-matai. Menulis kok tidak ada habisnya, tanyanya kepada salah seorang hamba
Tuhan—rekan saya. Dalam hati mungkin dia kesal melihat saya. Kemudian hari dia mengaku kesal dengan saya.
Menurutnya, kerja seorang hamba Tuhan itu, mengunjungi jemaat [visitasi], mendoakan orang sakit, berdoa dan
berpuasa dan memimpin liturgi suatu ibadah. Kalau hal
itu dilakukan, itulah pelayanan sejati. Kalau orang menulis bukanlah pelayanan. Karena itu, sebagai
penatua dia memanggil saya dan berbicara dari hati ke hati. Istilah kasarnya mau menegur saya karena dia
kurang berkenan atas apa yang saya lakukan melalui tulisan. Mengapa seorang pendeta setiap hari menulis
di depan komputer? Apa tidak ada pelayanan yang lebih penting? Mengapa tidak mengunjungi jemaat atau berdoa?
Hal itu mengganggunya setiap kali datang ke kantor gereja. Padahal dia datang ke kantor pas jam
istirahat. Pasti saya gunakan untuk menulis. Walau bukan hanya menulis melulu yang saya kerjakan. Saya
juga menjalankan pelayanan pastoral dengan penuh
semangat. Namun, pelayanan menulis dan membuat bahan pengajaran yang baik tidak
diperhitungkan. Apa bedanya? Bukankah kedua pelayanan ini sama-sama bermuara untuk
memuliakan Tuhan? Namun sekali lagi, penilaian jemaat terhadap literatur sangatlah rendah
bahkan berada di titik minus.
Kisah lain, awal tahun 2007 ketua majelis jemaat di gereja kami sungguh-sungguh mengultimatum saya. Dengan
nada marah dan muka memerah dia berkata, “Pak Zega, tolong berhenti menulis”. Hal ini dipicu ketika buku
kedua saya yang diterbitkan C.V. ANDI Offset Jogjakarta dibacanya di toko buku Gramedia. Dengan
sengaja saya tidak mau menanggapi pernyataannya itu, karena saya tahu dia belum mengerti alur pikiran saya.
Saya menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dan menjelaskan semuanya ini. Sebagai hamba Tuhan yang
melayani jemaat, nampaknya saya sudah terbiasa disalah mengerti orang. Apalagi masih muda dan banyak ide yang
tentu berbeda dengan mereka yang sudah berusia lanjut.
Pada suatu kesempatan, gereja kami akan merayakan Hari Ulang Tahun [HUT] ke-65. Oleh panitia,
saya ditugaskan untuk menuliskan riwayat hidup dan pelayanan pendiri
gereja tersebut. Padahal, bertemu muka dengannya sama sekali tidak pernah. Mendengar khotbahnya saja, saya
belum pernah. Pendeta pendiri yang terkenal kharismatis itu meninggal
di saat saya usia remaja. Itu pun masih berada di Pulau Nias kala itu. Dalam
hati, inilah kesempatan untuk menjelaskan bagi mereka
pentingnya pelayanan literatur itu. Dengan sengaja saya meminta panitia agar saya dibantu oleh penatua
gereja yang berulang kali memarahi saya karena menulis tersebut. Dengan alasan sebagai narasumber, saya
libatkan dia untuk mencari sumber—buku tentang pendiri gereja tersebut. Saya sengaja membuatnya pusing untuk
mencari bahan yang dibutuhkan. Saya sesungguhnya tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan bahan yang
diperlukan. Sekitar 10 tahun saya menjadi wartawan berbagai media Kristiani bahkan media sekuler. Saya
tahu cara dan jalan yang ditempuh untuk mendapatkan sumber-sumber yang diperlukan. Tapi, sekali lagi
dengan sangat sengaja penatua ini saya suruh mencarikan bahan, walau diam-diam sudah
mengusahakannya bahkan hampir jadi.
Detik-detik terakhir penyerahan naskah ke percetakan, nampaknya dia lemas dan pucat. Dia hanya mengumpulkan
satu buku yang sedikit sekali menyinggung pendiri gereja yang hampir saja didewakan oleh jemaatnya itu.
“Om, bagaimana sudah berapa buku yang didapat”? tanya saya menyelidik. “Maaf, Pak Pendeta. Saya tidak
mendapatkan bukunya”, tandasnya. Nah! Ini saat yang
tepat untuk menerangkan betapa pentingnya pelayanan literatur. Saya menjelaskan dan memberi pembelajaran
berarti baginya, hingga akhirnya sadar betapa pentingnya sebuah institusi memelihara pelayanan
literatur. Rupanya dia kapok dan sekarang sangat mendukung pelayanan-pelayanan
literatur yang digalakan gereja.
Pentingnya Pelayanan Literatur.
Pepatah Tionghoa mengatakan: “Tulisan sejelek apapun akan bertahan lebih lama, dari daya ingat terhebat
sekalipun”. Peribahasa ini mengingatkan kita betapa pentingnya suatu literatur. Rev. Dr. Pontas J.
Pardede, Ph.D, Th.D, mantan rektor Sekolah Tinggi Teologi [STT] INTHEOS Surakarta, dikenal para dosen
dan mahasiswanya sebagai kamus sejarah berjalan. Tanggal dan tahun serta ayat-ayat firman Tuhan
dihafalnya dengan sangat luar biasa. Sejak muda beliau sudah terbiasa menghafalkan ayat dan tahun-tahun
penting dalam sejarah Alkitab dan dunia. Namun begitu terkena Stroke, daya ingatnya yang hebat itu tidak
berarti.
Para tokoh dunia pun mengakui adanya kekuatan yang hebat dalam dunia literatur yang tidak boleh
diabaikan. Dalam bukun “Menulis Dengan Cinta”, Drs. Xavier Quentin Pranata, MACE mengutip pandangan
tokoh-tokoh dunia berkaitan dengan literatur.
Napoleon Bonaparte berkata: "Senjata api dan pena adalah kekuatan;
kekuatan yang paling dahsyat di dunia. Tetapi, kekuatan pena akan bertahan lebih lama
dibandingkan dengan senjata api."
Benyamin Franklin mengatakan, "Bila saja Anda memberi 26 serdadu, maka saya akan menaklukkan dunia." Ketika
ditanya, apakah yang dimaksud dengan 26 serdadu, ia menjawab, "Huruf A sampai Z."
Sementara itu, tokoh Reformasi Gereja Martin Luther berkata, "Selain keselamatan dari Tuhan Yesus, maka
anugerah terbesar dari Tuhan yang lain adalah Mesin Cetak."
Bukan hanya itu, Allah secara pribadi memberi teladan tentang pentingnya literatur. Allah menyatakan diri
kepada manusia bukan hanya melalui Kristus yang berinkarnasi menjadi manusia, tapi melalui bahan
tertulis yakni Alkitab. Allah mengungkapkan kehendak-Nya kepada manusia lewat tulisan. Karena itu,
atas kehendak-Nya, Alkitab ditulis oleh kurang lebih 40 orang penulis. Allah tidak memakai Malaikat, tapi
memakai manusia dengan bahasa manusia, untuk menyatakan diri-Nya. “Segala tulisan yang diilhamkan
Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran”. (2 Timotius
3:16).
Pada saat kekacauan sosial di zaman nabi Habakuk, Allah memberi perintah demikian. “Lalu TUHAN menjawab
aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu
dapat membacanya” (Habakuk 2:2). Pertanyaannya, mengapakah harus ditulis? Karena Allah secara pribadi
mengakui kekuatan literatur, kalau tidak, terjadi distorsi berita yang
menyebabkan kesesatan bagi generasi berikutnya.
Jika Literatur Bukan Urusan Gereja, Lalu...
Jika gereja dan orang Kristen beranggapan bahwa pelayanan literatur bukan urusan gereja, ini sebuah
KESALAHAN BESAR. Perlu belajar dari sejarah. Bukankah filosof dari Perancis yang bernama WILLIAM DURANT
berkata, “orang yang tidak belajar dari sejarah adalah orang yang kehilangan identitas dan sedang
menghancurkan sejarah yang akan datang”. Sejarah membuktikan bahwa Kekristenan awal tidak tidak dapat
dipisahkan dengan literatur. Demikian juga masa reformasi, para Teolog zaman itu menuliskan
pikiran-pikiran agungnya dan akhirnya memengaruhi zamannya. Walau kita tidak hidup di zaman tokoh-tokoh
reformasi, tapi pikiran-pikiran mereka dapat dipelajari lewat literatur yang ada.
Pengajaran-pengajarannya sangat jelas melalui literatur yang tersedia.
Pernahkah Anda berpikir, jika negara ini melarang gereja—orang Kristen memberitakan Injil, sarana apakah
yang akan Anda gunakan? Jika suatu saat pemberitaan Injil secara verbal dilarang, media apakah yang akan
dipakai? Secara pribadi saya berpendapat bahwa literatur adalah andalan yang baik.
Sebagai contoh. Seorang jemaat salah satu gereja di Jawa Timur berniat mau bunuh diri karena persoalannya
tidak kunjung selesai. Oleh anugerah-Nya, saya menulis di Majalah DUTA—Majalah sinode gereja itu. Judul
tulisannya, “Pertemuan Antara Goa Dan Matahari”. Melalui tulisan itu, dia mengurungkan niatnya untuk
bunuh diri. Tulisan itu berbicara kuat kepadanya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Roh Kudus
menginspirasinya. Asal bertemu dengan Matahari Kebenaran, pasti kegelapan itu hilang. Tugasnya
sekarang adalah menemukan MATAHARI, sumber TERANG itu
yakni Tuhan Yesus Kristus. Orang itu dan pendetanya menghubungi saya. Mereka berterimakasih bahwa tulisan
itu menjadi berkat. Bukan karena saya pintar merangkai kata dan kalimat. Saya ini bukan siapa-siapa. Tapi,
Tuhan berkenan memakai tulisan itu untuk memberkati orang lain. Seandainya artikel itu tidak ditulis,
mungkin sesuatu yang buruk menimpa hidupnya. KARENA ITU, jangan abaikan pelayanan literatur. GEREJA dan
ORANG KRISTEN harus sadar betul akan hal ini. Mari,
bangkitkanlah roh mencintai literatur, terutama literatur KRISTEN yang membangkitkan iman dan
menggiring kita mengenal Allah lebih benar dan tepat. Setuju?
Surakarta, 15 Januari 2008.
-Manati I Zega-
|