|
Tidak Cepat Putus Asa
Oleh: Manati I. Zega
Bacaan: Lukas 18:35-43; Markus 10:46-52; Matius 20:29-34.
Dunia kita hari-hari ini diwarnai dengan PUTUS ASA.
Sebagai contoh, awal tahun 2008 ini kita dikejutkan dengan berita “hilangnya” kedelai di pasaran. Beban
hidup pun semakin berat. Saking beratnya, sebagian pengusaha tempe langsung menutup usahanya. Nampaknya
mereka putus asa dengan kondisi ekonomi negara ini yang tak kunjung ada penyelesaiannya. Bukankah
reformasi telah berjalan 10 tahun tapi belum menunjukkan perubahan yang berarti?
Namun disisi lain, kondisi tersebut membuat sebagian orang semakin kreatif. Ide-ide kreatif muncul tatkala
beban semakin mendidih. Ketika harga kedelai naik, seorang pembuat tempe mencampur bahan pokoknya dengan
singkong sehingga produksi tetap lancar. Pembuat tempe ini tidak langsung patah arang dengan kondisi yang ada
dalam masyarakat kita.
Kisah yang tertulis dalam Lukas 18:35-43 ini, diawali ketika Yesus dan para
murid-Nya datang ke YERIKHO. Ada
apa ke Yerikho? Alkitab tidak memberi keterangan lengkap. Tapi, apabila dikaitkan dengan Yesus, tentu
saja kedatangan mereka ke sana untuk MELAYANI TUHAN.
Setelah sekian lama berada di YERIKHO, kita juga tidak tahu tepatnya berapa lama berada di sana, Alkitab
memberitahukan YESUS bersama PARA MURID dan ORANG BANYAK meninggalkan Yerikho. Tatkala meninggal kota
yang terletak di lembah Yordan, kira-kira 250 meter, 12 kilometer sebelah utara laut Mati, mereka melewati
suatu tempat. Dan di tempat itu, duduklah seorang pengemis buta. Setiap harinya dia menantikan belas
kasihan orang yang melewati tempat itu. Nama pengemis itu Bartimeus, anak Timeus.
Kali ini, dia mendengar sekumpulan orang melewati tempat itu. Jumlahnya mungkin lebih banyak dari
biasanya. Dari sana dia mulai bereaksi. Reaksinya dimulai dengan bertanya, APA ITU? [ayat 36]. Mengapa
dia bertanya? Karena kondisinya yang buta. Dari sini kita dapat melihat bahwa BARTIMEUS seorang yang tidak
mudah—tidak gampang putus asa.
Bertanya, adalah pertanda bahwa orang itu TIDAK CEPAT PUTUS ASA. Bertanya adalah pertanda bahwa masih ada
semangat untuk hidup.
Apa yang membuat Bartimeus tidak cepat putus asa dalam kondisinya yang demikian?
PERTAMA, ADANYA SEMANGAT [Ayat 36-39]
36 Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia
bertanya: "Apa itu?"
37 Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat."
38 Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
39 Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak
Daud, kasihanilah aku!"
Ada hal yang menarik dalam bagian ini. Bartimeus adalah seorang buta. Dalam kebutaannya, dia ingin
sembuh. Dia berusaha sekuat tenaga. Tapi aneh, justru orang yang waras, para murid dan orang banyak yang
mungkin baru saja mendengar penagajaran Yesus justru menyuruhnya diam. Orang banyak yang mungkin saja baru
mengalami KKR bersama Yesus justru menyuruhnya diam.
Bukankah Bartimeus sesungguhnya obyek kasih Allah juga?
Ini suatu hal yang tidak masuk akal. SEHARUSNYA, dia dipertemukan dengan Yesus. SEHARUSNYA, dia dituntun
supaya bertemu dengan Juru Selamat. Tapi, yang dilakukan justru memintanya diam. Dalam versi Alkitab
BAHASA INDONESIA SEHARI-HARI [BIS], bukan hanya menyuruhnya diam, tapi memarahinya.
Kalau kita merenungkan hal ini, tentu kita heran dengan sikap mereka.
Namun hati kita memuji Tuhan! Semakin dimarahi, Bartimeus semakin berteriak, bersuara keras memohon
pertolongan Yesus. Seolah-olah dia tidak peduli dengan sikap orang kebanyakan yang tidak setuju dengan
sikapnya itu. Walau dianggap PENGGANGGU, namun tetap bersemangat.
Ilustrasi: Tentang filosof dan orang yang masuk ke dalam jurang.
Suatu hari, seorang filosof menyaksikan seorang yang jatuh ke dalam lubang. Orang itu
berteriak-teriak minta tolong. Dari atas, filosof itu berkata anakku
seandainya engkau membaca buku-buku yang kutulis pasti engkau tidak akan jatuh. Sayang, engkau tidak membaca
bukuku, lalu dia pergi meninggalkan orang yang membutuhkan pertolongannya tersebut.
Semangat itu diperlukan. Firman Tuhan berkata, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat
yang patah mengeringkan tulang” [Amsal 17: 22].
Contoh yang lain dapat kita temukan dalam injil Yohanes 5:1-18, kisah tentang seorang yang lumpuh
selama 38 tahun. Dalam kisah itu disebutkan siapa yang terdahulu masuk di kolam Betesda itu saat Malaikat
Tuhan menggoncangnya, dialah yang akan sembuh. Itulah hukum yang berlaku saat itu. Dan, yang menetapkan
hukum itu adalah Allah sendiri. Namun selama tiga puluh delapan tahun melakukan hal yang sama, dengan
semangat, akhirnya pertolongan itu diterimanya juga. Yesus menyembuhkannya.
Aplikasi: Jika hal ini ditarik dalam kehidupan kita, mungkin sudah lama kita berdoa untuk sesuatu hal,
namun belum ada tanda-tanda jawaban yang pasti, tetaplah bersemangat. Mungkin juga kita bergumul untuk
sesuatu hal, tapi hal itu belum terealisasi, tetaplah bersemangat. Karena semangat merupakan kunci utama
dalam meraih pertolongan Tuhan. Tanpa semangat, seseorang bagaikan sedang mengubur diri sendiri
sebelum waktunya.
KEDUA, TAHU ALAMAT YANG TEPAT UNTUK MENYAMPAIKAN PERMOHONAN [Ayat 40-41]
40 Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu
kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya:
41 "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!"
Semua orang ribut dan melarang Bartimeus berteriak minta tolong. Tapi Yesus melihat
kesungguhannya. Walau semua orang menganggapnya tidak sopan bahkan mengganggu, namun Yesus tetap memperhatikan teriakan
dan rintihan hatinya.
Mazmur 145:18 berkata, “TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang
berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.”
Teriakan Bartimeus yang menantikan pertolongan-Nya tidaklah sia-sia. Yesus menanggapi dengan serius
ketika Bartimeus berteriak minta tolong. Walau suara orang banyak menggema
di sekitar Yesus, namun suara penuh harap dari Bartimeus mendapatkan tanggapan yang
serius. Walau suara bising terdengar begitu kuat, namun suara iman menembus hati Sang Juruselamat.
KETIGA, SARANA MENCAPAI TUJUAN. [Ayat 42-43]
42 Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau,
imanmu telah menyelamatkan engkau!"
43 Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat
hal itu dan memuji-muji Allah.
Untuk mencapai tujuan tertentu dibutuhkan sarana. Seorang pelajar membutuhkan sarana belajar yang
memadai sehingga prestasi belajarnya maksimal.
Seorang pedagang membutuhkan modal yang cukup dalam mengembangkan usahanya. Seorang pekerja membutuhkan
sarana kondusif sehingga dapat berkreasi dalam menjalankan aktifitasnya. Dan seterusnya.
Dalam bacaan kita hari ini, Bartimeus disembuhkan dari kebutaannya karena beriman kepada Yesus. Bahkan Yesus
memuji iman Bartimeus. “IMANMU MENYELAMATKAN ENGKAU” [ayat 42].
Iman kepada Yesus selalu membawa perubahan. Yang sakit disembuhkan, yang lemah dikuatkan, yang susah
dihiburkan yang putus asa diberi kekuatan ekstra. Dan yang lebih PENTING lagi, iman kepada Yesus membawa
keselamatan. KESELAMATAN untuk hari ini dan hidup KEKAL bersama Kristus.
IMAN adalah sarana kita menggapai anugerah dan berkat Tuhan.
AKHIRNYA, berputus asa, bukanlah hal terbaik dalam memecahkan masalah kehidupan. Selama kita masih
bersama Tuhan, SELALU ADA KEMUNGKINAN mendapat pertolongan. Apa yang MUSTAHIL dalam takaran kita,
belum tentu mustahil dalam pandangan Tuhan.
---MANATI I. ZEGA---
Surakarta, 23 Januari 2008
|