|
|
|
HADIAH BUAT YESUS
GloriaNet: Natal selalu berkesan menyenangkan. Jabat tangan yang hangat disertai senyum tulus
seakan menularkan kebahagiaan yang sama-sama dirasa. Tuhan yang dulu tak terjangkau telah menghadirkan diri-Nya. Kasih Allah telah diungkapkan. Tak tercegah lagi oleh apa pun. Bila Dia menjadi Kado Terbesar bagi umat manusia, sudah selayaknya kita pun menjadi kado bagi-Nya. Dengan persembahan diri kita.
Ya, Dia telah menghadiahkan diri-Nya sendiri untuk umat yang dikasihi-Nya. Dengan pengorbanan yang tak terpahami, Dia rela meninggalkan kemuliaan demi mendekatkan diri-Nya pada manusia. Dengan demikian, boleh dikata bahwa sebutan lain dari "hadiah" sesungguhnya adalah "pengorbanan." Jadi, bila kita sering menyanyi, "Saya mau seperti Yesus," itu berarti kita pun harus mau menyatakan "pengorbanan" dalam hidup pribadi kita.
Pengorbanan ini bisa kita wujudkan melalui pelayanan. Pelayanan bagi Allah yang dilakukan dengan tulus tentunya akan mendatangkan hal-hal yang tak ternilai. Pekerjaan Tuhan semakin maju. Nama Tuhan semakin dimuliakan. Banyak jiwa diberkati Tuhan. Gereja Tuhan diperluas. Lalu, layakkah kita minta imbalan? Tidak, karena itu suatu pengorbanan, yang dihadiahkan dengan cuma-cuma.
Mungkin pengorbanan ini takkan diperhatikan, apalagi dihargai oleh orang lain. Apalagi kita jarang menceritakannya atau menggembar-gemborkannya. Namun tak apa. Toh, sang penerima pengorbanan itu bukan manusia. Tapi Tuhan sendiri. Dan, Tuhan sangat menghargainya.
Misalnya saja, setiap kali hendak latihan untuk drama Natal, kita harus mengorbankan waktu istirahat di petang hari. Siapa yang lihat kalau sepanjang pagi hingga sore kita sudah kecapekan karena membanting tulang mencari nafkah? Betapa tubuh ini rasanya sudah terlalu penat dan butuh dibaringkan. Tapi apa rekan-rekan kita tahu itu? Tidak. Mereka hanya butuh kita datang berlatih.
Atau bila kita mesti mengorbankan waktu bercengkerama bersama keluarga di rumah selama minggu-minggu persiapan Natal yang padat dengan jadwal latihan dan rapat? Anak kita yang masih balita mungkin akan kehilangan perhatian kita. Kegiatannya selalu ke gereja, ke gereja, dan ke gereja lagi! Ketika pulang, ia sudah tidur pulas. Tak ada cium selamat tidur sebelum ia terlelap. Apakah rekan-rekan di gereja tahu bila kita mengalami hal seperti ini? Tidak. Mereka hanya mengingat hari Natal sudah mepet. Mereka hanya merasa harus mengintensifkan persiapan.
Atau bila kita terkadang mesti juga mengorbankan waktu bekerja karena adanya gladiresik, rekaman penting, atau pertemuan lain? Bila kita mesti tutup toko, libur berbisnis pada jam kerja, dan mengorbankan laba yang mestinya dapat kita peroleh hari itu? Apakah rekan-rekan gereja kita tahu itu? Tidak.
Bila hal-hal itu mesti kita korbankan, Saudaraku, ingatlah bahwa kita telah menerima kado yang jauh lebih besar, Yesus Kristus sendiri. Dia rela meninggalkan Rumah-Nya, Bapa-Nya, kenyamanan-Nya di surga, hanya untuk kita. Sekali lagi, meski rekan-rekan di gereja tak ada yang tahu apa saja yang mesti kita korbankan, ingatlah, Dia yang menerima pengorbanan itu memperhatikan dan mencatat-Nya. Jadi, lakukanlah apa yang mesti Anda lakukan dengan sungguh. Korbankan apa yang mesti Anda korbankan dengan tulus. Dia mengingatnya.
(GCM/Tina)
|