|
|
|
NATAL, TAK HANYA 25 DESEMBER
GloriaNet: Di Indonesia, kita sering menyebut Natal hanya sebagai satu
hari perayaan saja. Yang disebut Natal, ya cuma tanggal 25 Desember itu. Tak lebih. Paling-paling ditambah tanggal 24. Itu pun hanya diakui malamnya saja. Malam Natal. Satu malam menjelang Natal.
Namun di dunia Barat, saya perhatikan mereka menyebutnya masa Natal, musim Natal,
Christmas season. Artinya mereka tidak hanya merayakan Natal pada satu hari itu saja, tetapi sebagai satu "musim" yang cukup panjang, hingga tanggal 25 Desember itu tiba.
Sebagai orang Indonesia, saya jadi cenderung menganggap bahwa Natal juga datang hanya pada satu hari khusus itu, 25 Desember. Akibatnya, meski sudah memasuki bulan Desember, saya belum merasakan suasana Natal dan belum bisa menikmati berkat Natal itu. Saya berharap akan menerimanya nanti pada tanggal 25 Desember.
Padahal, saya sendiri ikut sibuk mempersiapkan perayaan Natal. Yah, paling tidak untuk Natal dewasa dan Natal Sekolah Minggu. Namun itu pun sudah cukup banyak menyita perhatian saya. Latihan, rapat, doa bersama, rekaman, gladiresik, dan sebagainya. Hari-hari menjadi padat. Tubuh pun penat. Dari situ tak heran bila kemudian muncul mudah muncul kekesalan saat timbul sedikit masalah, sungut-sungut saat terjadi kesalahpahaman.
Suatu malam, sehabis latihan di gereja, saya merenung sendiri. Sementara saya sibuk bersiap menyambut puncak perayaan Natal tanggal 25 Desember, apa yang saya rasakan? Adakah saya merasakan sejahtera dan sukacita menyambut hari kelahiran-Nya? Atau, saya tak merasakan apa-apa, dengan harapan nanti tanggal 25 Desember suasana surgawi akan tercurah begitu hebat sehingga segala kepenatan selama masa persiapan sirna dalam sekejap?
Menyadari hal itu, saya ingin segera mengubah sikap. Bukankah sukacita Natal itu sudah ada meski kalender belum mencapai tanggal 25 Desember? Bukankah kehadiran Allah telah dapat kita rasakan meski belum ada perayaan besar yang menandainya?
Itu sebabnya saya bertekad untuk mulai menikmati hari-hari ini, musim Natal ini. Selagi saya berlatih, rapat, doa bersama, dan sebagainya, saya akan menikmati sukacita di dalamnya karena saya sedang ikut mempersiapkan kado bagi Yesus. Karena Yesus telah lahir untuk saya.
Ah, mengapa saya terlambat menyadarinya? Alangkah bodohnya bila saya hanya merasakan kelelahan dan kekesalan sementara menantikan Natal, padahal sukacita dan berkat besar itu sudah dicurahkan sejak lama. Kini, meski kalender masih cukup jauh dari angka 25, saya ingin merasakan mulai Natal hari ini. Setiap hari. Selamat Natal!
(GCM/Tina)
|