Pancha W. Yahya

Dilahirkan di Semarang, pada tanggal 8 Febuari 1976 dari pasangan Alm. Hanoto Jahja dan Tanti Widjaja. Dan pada tahun 2001, menikah dengan Sumanti Jonatan, S.Th.

Pendidikan:
1. SD Kristen 1 Semarang lulus tahun 1988
2. SMP PL Domenico Savio Semarang lulus tahun 1991
3. SMA Negeri 3 Semarang lulus tahun 1994
4. Sarjana Theologia dari Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang lulus tahun 2000

Pekerjaan:
Pernah menjadi pengerja di GKI Sinode Wilayah Jawa Barat
Jl. Jatinegara Barat III/2A dari th. 2000 - 2005, sekarang sedang menjalani
studi lanjut di SAAT Malang

Dapat dihubungi langsung di Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

  • PDF
  • Cetak

Hidup karena Iman Bukan karena Melihat

Penilaian Pengunjung: / 15
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:28
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Sebuah Refleksi dari Kisah Hidup Ayub

Penderitaan—dalam segala bentuknya—merupakan bagian hidup anak manusia, tak terkecuali orang-orang percaya. Meskipun Herlijana, seorang anak Tuhan, bahkan pelayan Tuhan, namun hidupnya tak luput dari penderitaan. Betapa tidak, selama bertahun-tahun ibu dari satu anak ini didera oleh berbagai macam penyakit -- (Kisah hidupnya itu dituangkannya sendiri dalam buku berjudul Bukankah Ini Mujizat?: Kisah Ketegaran Hati Wanita yang Hidup Bersama Kanker Payudara (Yogyakarta: Gloria, 2007). Bertubi-tubi. Kisah sedih itu dimulai tahun 2007, saat dokter memvonisnya menderita kanker payudara dan ia harus menjalani operasi. Setelah operasi, dokter mendiagnosis kankernya telah menjalar sampai ke getah bening. Alhasil, Herlijana pun harus menjalani serangkaian pengobatan—seperti radiasi dan kemoterapi—yang amat menyiksa. Penderitaannya tak cukup sampai di situ. Di bekas operasinya, timbul abses, sehingga ia harus dioperasi lagi. Selain itu, berbagai penyakit lain pun hinggap di tubuhnya yang semakin ringkih: vertigo, insomnia, kram pada kedua kaki, paru-paru sebelah kanan terendam air, sampai mata kiri yang buta.

Selanjutnya: Hidup karena Iman Bukan karena Melihat

  • PDF
  • Cetak

Fitri

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:28
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Gadis kecil itu bernama Fitri. Ia memang bukan gadis sembarangan. Meskipun usianya baru sebelas, namun ia sudah kelas satu SMP. Katanya, ia pernah dua kali loncat kelas. Kemampuan intelektualnya memang di atas rata-rata. Namun, bukan itu yang membuatku mengaguminya.

Kuingat saat pertemuan pertamaku dengannya (memang sejak saat itu aku tak lagi berjumpa dengannya).

Selanjutnya: Fitri

  • PDF
  • Cetak

Ada Apa Dengan Salib?

Penilaian Pengunjung: / 5
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:27
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Lambang merupakan identitas.  Mau bukti?  Seandainya Anda melihat gambar apel kroak di sisi kanannya, kemungkinan besar Anda akan langsung ingat pada sebuah perusahaan Amrik penjual komputer dan berbagai piranti lunak.  Perusahaan itu ialah Apple.  Atau misalnya, sebuah mobil melintas di depan Anda; di kap mesin mobil itu bertengger seekor macan kecil—tentunya bukan macan beneran—yang tengah menerkam mangsanya, niscaya Anda akan berdecak-decak. Mobil yang punya lambang seperti itu adalah mobil merek Jaguar yang keren juga mahal. 

Selanjutnya: Ada Apa Dengan Salib?

  • PDF
  • Cetak

Hidup bagi Dosa, Mati bagi Allah

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:26
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Mungkin Anda kaget dengan judul tulisan ini.  “Seingat saya bunyinya tidak begitu deh,“ kiranya demikian respons Anda ketika membaca judul tersebut.  Apakah itu tidak salah ketik?  Tidak… tidak… judul itu bukan salah ketik!  Judul itu memang sengaja ditulis demikian!  Memang kalimat “hidup bagi dosa, mati bagi Allah” tidak sesuai dengan Alkitab.  Paulus dalam Roma 6:11, menulis demikian, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.”  Tetapi dalam praktiknya kita sering melakukan hal yang sebaliknya, yaitu kita hidup bagi dosa dan mati bagi Allah.  Oleh sebab itu, kita akan membahas satu demi satu praktik yang salah itu, supaya kita menyadari kesalahan itu dan tidak melakukan lagi.

Selanjutnya: Hidup bagi Dosa, Mati bagi Allah

  • PDF
  • Cetak

Melayani Tuhan dengan Profesional, Apa Mungkin?

Penilaian Pengunjung: / 15
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:26
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya

Pendahuluan

     Ketika mendengar kata profesionalisme, apa yang langsung terlintas di dalam benak Anda?  Hmm..., jika saya menerka-nerka yang beredar di benak Anda saat ini pastilah sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, bisnis atau perusahaan. Tentu, profesionalisme menunjuk kepada hal baik mengenai pekerjaan atau bisnis.  Suatu perusahaan dapat dikatakan profesional bila kinerja mereka terbukti baik dan memuaskan. Kita mungkin pernah mendengar omelan seseorang berkaitan dengan kinerja yang buruk dari suatu perusahaan, “Aku tidak akan pernah lagi berurusan dengan PT. ABC karena cara kerja mereka nggak profesional sama sekali!”  Atau ungkapan serupa dengan itu misalnya, “Jangan pernah membeli barang dari toko XYZ karena mereka benar-benar tidak profesional!”

Selanjutnya: Melayani Tuhan dengan Profesional, Apa Mungkin?

Halaman 1 dari 27