• PDF

Jungkat-Jungkit

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 15:58
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 1900 kali
Pernahkah Anda bermain jungkat-jungkit? “Tentu saja saya pernah, tapi itu dulu waktu masih kecil” mungkin demikian jawaban Anda. Memang, jungkat-jungkit adalah permainan yang sangat umum. Sampai sekarang, permainan tersebut dapat kita jumpai dengan mudah di banyak TK dan taman bermain. Inti dari permainan tersebut adalah keseimbangan. Coba bayangkan bila seorang pemain jungkat-jungkit bobotnya jauh lebih berat dari lawan mainnya, maka permainan itu tidaklah berlangsung dengan seru. Hal yang sama akan terjadi juga bila beberapa pemain duduk di salah satu ujung papan sedang ujung yang lain hanya diduduki oleh satu orang saja.

Penghargaan seorang manusia terhadap dirinya mirip dengan permainan jungkat-jungkit tadi. Saya menyebutnya dengan jungkat-jungkit Harga Diri. Permainan tersebut dimainkan oleh dua “pemain”. Yang satu bernama si Hina sedang yang lainnya si Mulia. Permainan jungkat-jungkit itu akan mengasyikkan bila terjadi keseimbangan. Namun sayang, banyak jungkat-jungkit Harga Diri yang tidak seimbang. Ada jungkat-jungkit di mana Si Hina terlalu berat dibanding si Mulia. Akibatnya orang tersebut memandang dirinya sangat hina. Ia menjadi orang yang rendah diri atau minder. Namun kebalikannya, ada juga permainan yang didominasi oleh si Mulia. Akibatnya mudah ditebak. Orang itu menilai dirinya sendiri terlalu hebat, dan ia menjadi seorang yang amat sombong.

Sebetulnya Alkitab telah mengajar kepada kita secara jelas perihal keseimbangan di atas. Alkitab mengajar bahwa kita ini adalah ciptaan Tuhan yang hina sekaligus mulia. Kita adalah ciptaan yang hina sebab kita diciptakan dari debu (Kej. 2:7). Manusia tidaklah tercipta dari emas, perak, atau permata melainkan dari debu yang tiada bernilai. Oleh sebab itu tidak boleh ada seorang pun yang menyombongkan dirinya karena semua manusia sama, berasal dari debu. Namun, manusia juga adalah makhluk yang mulia. Manusia tercipta sebagai gambar dan rupa Sang Khalik (Kej. 1:26). Hal itu berarti dalam diri manusia diturunkan sebagian sifat Allah. Tidak hanya itu, manusia adalah wakil Allah untuk berkuasa atas ciptaan-Nya yang lain. Jadi siapa pun kita, miskin atau kaya, terpelajar atau tidak, berwajah menawan atau bukan, kita ini ciptaan Allah yang mulia. Jika kita memahami dengan baik prinsip Alkitab tersebut, niscaya kita akan menghargai diri kita secara seimbang. Nah, bagaimana dengan jungkat-jungkit Harga Diri Anda, sudahkah ia dimainkan dengan asyik?

Pancha Wiguna Yahya

Jakarta, 07 Mei 2004
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
ayu   |180.247.173.xxx |23-01-2012 16:22:24
gimana caranya buat jungkat-jungkit ?
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."