Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 







Natal yang (Selalu) Berkesan
Oleh: Pancha W. Yahya

Suatu sore yang cerah, sepasang kakek dan nenek duduk-duduk di beranda rumah mereka. Sang kakek sedang asyik menikmati kopi buatan nenek sambil sesekali tersenyum simpul menyaksikan kenakalan cucu-cucunya yang tengah berkejaran di taman. Sedang si nenek sibuk menyelesaikan sulamannya. Tiba-tiba sang nenek berhenti menyulam dan memanggil suaminya dengan mesra, “Pa…”. Namun, sang kakek menyambut panggilan itu dengan dingin, “hem…” demikian ia bergumam dan matanya masih tetap tertuju ke taman. Tapi sekali lagi panggilan mesra itu meluncur keluar dari mulut nenek. Dan sang kakek memberikan sambutan yang sama seperti sebelumnya. Namun nenek itu rupanya pantang menyerah. Sekali lagi ia memanggil suami yang telah dinikahinya puluhan tahun dengan panggilan mesra itu. 

Akhirnya, suaminya terusik juga. Sambil menoleh kepada sang istri ia berkata “Ada apa sih kamu, tumben-tumbenan pake acara mesra-mesra-an segala?”. Lalu sang istri berkata, “Pa… aku cinta padamu.” Sontak sang kakek terperanjat mendengar perkataan itu. “Ma, kamu ini ada apa sih hari ini? Bikin papa bingung saja! Nggak usah lah ngomong begitu, kan malu kalau didengar cucu-cucu.” Tapi teguran itu tidak membuat sang nenek surut, tapi ia malah semakin bersemangat mengulang kalimat yang sama. “Pa… aku cinta kamu.” “Mama ini memang ada-ada saja, kata kakek ketus, sudah setua ini masih ngomong-ngomong cinta-cintaan segala, bosan Ma, bosan!”

Natal adalah ekspresi cinta Allah kepada kita. Karena hanya kasih yang telah memotivasi Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Setelah sekian (Anda ganti sendiri sesuai dengan berapa kali Anda telah merayakan natal) kali kita merayakan natal, bagaimanakah respon kita? Apakah kita menyambutnya seperti sang kakek menyambut sapaan kasih istrinya? Apakah kita merasakan bahwa natal itu biasa-biasa saja bagi kita? Apakah kita cenderung menjadi bosan dengan perayaan-perayaan natal, sehingga keluar dari mulut (atau pikiran) kita perkataan, “natal lagi, natal lagi, bosan ah”? Atau sebaliknya, apakah setiap kali kita merayakan natal, kita mendapati bahwa natal membawa kesan yang mendalam, karena melalui natal Allah berkata kepada kita dengan lembut, “Aku mengasihi kamu”?

Pancha Wiguna Yahya

Jakarta, 25 Desember 2003