|
NATAL 2001
Setiap tahun umat kristiani merayakan Natal. Setiap tahun dunia bisnis disemarakkan secara
komersial. Setiap tahun berbagai kelompok mengadakan Natal. Rasanya, semua adalah rutinisme dan komersialisasi.
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah pandangan bahwa Natal harus dirayakan dengan acara yang memerlukan uang, sehingga ratusan surat, les beredar minta sumbangan untuk merayakan Natal.
Mengalami semuanya itu, kita pasti bertanya apakah itu Natal yang di kehendaki Tuhan? Adakah Tuhan berkenan pada natal yang hanya rutinisme belaka? Natal yang di paksakan? Haruskah kita merayakan Natal di luar kemampuan kita yang wajar? Dan banyak lagi pertanyaan yang dapat kita pergumulkan.
Apakah yang khas dengan Natal tahun ini? Secara nasional bangsa kita masih diliputi krisis multi-dimensional, krisis ekonomi, krisis politik, krisis moral, krisis disintegrasi, krisis penegakan hukum, krisis sosial dalam bentuk benturan bernuansa sara, dan lain-lain.
Secara keumatan kristiani, bagaimana keadaan kita? Tidakkah kita dilanda perpecahan yang semakin luas? Tidakkah kita mengalami kesulitan dalam mempersatukan umat kristiani di Indonesia? Tidakkah kita dengar ada kawan-kawan kita yang sudah memilih melawan kejahatan dengan kejahatan?
Tidakkah kita dengar bahwa ada umat yang sangat besar beban yang ditanggungnya? Dalam pengungsian? Salam suasana tertekan? Adakah bedanya dengan suasana di Betlehem pada saat Yesus dilahirkan? Saya khawatir, jangan-jangan tak ada tempat bagi Yesus dalam perayaan kita.
Semua sibuk dengan aktivitas, sibuk dengan perayaan, tak ada yang mau kelihatan miskin. Maka yang lahir di kandang itu terlupakan, hanya diingat sebatas hiasan di panggung saja.
Makna Natal sesungguhnya adalah perubahan, transformasi, reformasi. Yesus datang supaya manusia dari musuh Allah menjadi didamaikan dengan Allah (2 Korintus 5); dari suasana ketakutan menjadi suasana damai, dari suasana tak memiliki masa depan menjadi orang berpengharapan (Lukas 2; Yohanes 1).
Oleh karena itu, sukses kita merayakan Natal bukanlah soal kegemerlapan, bukan soal acara; melainkan soal komitmen perubahan dan komitmen pembaruan, komitmen menjadi lebih berkenan kepada Tuhan. Berita Natal yang disampaikan oleh malaikat kepada gembala di padang Efrata adalah: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Lukas 2:14).
Pesan Natal datang kepada gembala yang di perkenan Tuhan, dan mereka yang diperkenan Tuhan mengalami damai sejahtera akan selalu memuliakan Tuhan. Oleh karena itu, isu pokok bagi kita adalah: Apakah saya, perilaku saya, apakah perilaku masyarakat dan bangsa saya berkenan kepada Tuhan? Kalau belum, maka damai sejahtera itu akan jauh dari kita. Kalau hidup kita pribadi, kalau bangsa kita tak peduli untuk mempermuliakan Tuhan, maka apakah artinya Natal 2001?
Bagaimanakah kita merayakan Natal 2001? Adakah komitmen baru untuk lebih baik, lebih berkenan pada Tuhan? Adakah masyarakat kita akan lebih mengutamakan damai daripada permusuhan? Adakah bangsa kita akan lebih mengutamakan kebersamaan daripada kepentingan kelompok?
Kalau ya, ternyata Natal tahun 2001 telah membawa perubahan bagi kita, perubahan yang di perkenan Allah dan perubahan yang akan memuliakan Allah.
Semoga!
Jonathan Parapak |