Tim Shalom
Setelah kurang lebih 2 minggu mulai tanggal 28 Mei 2006 melakukan pelayanan tanggap darurat bagi
korban gempa dan berlanjut selama lebih dari 4 bulan melakukan program rehabilitasi dan pelayanan
penjangkauan melalui Tim Syallom, tak terhitung kasih setia, kebaikan, sukacita dan keajaiban Tuhan
yang kami rasakan. Sukacita melihat bagaimana Allah berkarya dengan cara yang ajaib dan tak terduga
sehingga apa yang pada mulanya kami anggap mustahil dilakukan, ternyata dengan kemurahanNya telah
Allah lakukan di dalam dan melalui tim ini. Bukan hanya ketika melihat hasil yang tampak mata:
rumah-rumah yang bisa menjadi tempat berteduh, dana yang selalu dicukupkan, hubungan yang baik
dengan warga masyarakat yang dibantu, kekuatan secara fisik dan rohani untuk melakukan semua bagian kami;
namun yang terutama adalah Tuhan juga mengubahkan kami secara pribadi melalui kebersamaan dan pelayanan
dalam tim ini : perubahan dalam karakter, keterbebanan, panggilan hidup, cara pandang terhadap kehidupan
dan sesama, dan terlebih lagi visi yang terus diperbaharui dan diperjelas untuk berbagian dalam melaksanakan
Amanat AgungNya.
Profil Tim Shalom
|
Seluruh program tim tidak dapat berjalan tanpa adanya dukungan dana, oleh karena itu peran Johan sebagai humas dan usaha dana sangat penting dalam tim ini. Staf departemen pembinaan Yayasan Gloria ini telah membangun hubungan dan jaringan yang memungkinkan pribadi, organisasi, maupun gereja mempersembahkan dana melalui program tim Syalom. Dialah yang memberikan support dalam pengajaran dan konsep Alkitabiah kepada seluruh anggota tim, sehingga sangat menolong tim dalam mengemban tugas dan pelayanan ini. Mengerjakan sesuatu dengan pemahaman yang benar, motivasi yang benar dan tujuan yang benar sesuai dengan misi Allah adalah hal yang paling penting dalam melaksanakan pekerjaan ini. Demikianlah dukungan yang diberikan Johan kepada tim.
|
|
Di tengah kesibukan sebagai Staf Departemen Pembinaan Yayasan Gloria, Tyas juga memegang tanggung jawab dalam bidang misi dan follow up dalam Tim Syallom. Karena pelayanan ini merupakan jembatan untuk dapat memberitakan kabar baik dan menyatakan kasih Kristus pada setiap keluarga yang mendapat bantuan. Kami percaya bahwa bantuan fisik berupa kebutuhan hidup dan rumah saja tidak cukup, karena diatas dari semua itu kami berdoa agar mereka semua mengalami kasih dan pengampunan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus.
|
|
Pembalap (pemuda berbadan gelap?) ini yang juga seorang ayah ini sehari- hari melayani sebagai Staf Departemen Pembinaan Yayasan Gloria, namun dalam tim Syalom Anto menjadi koordinator para volunteer yang dilibatkan dalam program rehabilitasi pasca gempa baik untuk memasang tenda, mengirim material, kerja bakti membangun rumah, trauma healing, pelayanan medis, posyandu, dll. Tugasnya yang lain adalah penanggungjawab program pengembangan SDM dan ekonomi di daerah-daerah target pelayanan tim Syalom. Keberadaan Anto selalu bisa memberikan keceriaan dan kegembiraan karena dia adalah personil paling humoris dalam tim ini. Selain itu kesabaran dan kedewasaannya sangat mendukung untuk menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat khususnya para pemimpin dan orang-orang yang berpengaruh di dalamnya. Interpersonal skillnya sangat memungkinkan untuk menjadi penengah dan pendamai dalam setiap persoalan yang dihadapi tim secara intern maupun ekstern. Bergabung dalam tim ini memberikan banyak pelajaran rohani tentang iman, kebergantungan pada Tuhan dan bagaimana mengutamakan kebutuhan sesama lebih dari kebutuhan-kebutuhan pribadi.
|
|
Nina adalah seorang melayani Tuhan secara full timer. Dalam pelayanannya di tim Syallom ini bertugas sebagai koordinator wilayah, dengan memberikan segenap pikiran, dan tenaga untuk mengunjungi setiap wilayah-wilayah yang di layani oleh tim Syallom dan berinteraksi dengan warga yang dibantu. Saat ini dia sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke kota ” Niniwe ” yaitu ladang misi yang sudah Tuhan siapkan. Pertanyaannya, dimanakah ”Niniwe” itu? Itu yang masih menjadi pertanyaan dan pergumulan Nina. Suasana tim yang saling mendukung serta pengalaman lapangan ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi misinya di masa yang akan datang. Dalam tim ini juga Tuhan memperlengkapi melalui pribadi-pribadi lainnya untuk saling membangun, menumbuhkan, mempertajam karakter, visi nina, serta mengetahui lebih dalam rencana Tuhan bagi kehidupannya.
|
|
Koordinator Tim Syalom yang berasal dari Toraja ini baru saja lulus dan menjadi alumni Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta. Syukur pada Tuhan karena masa-masa akhir studinya ini menjadi waktu yang dipersembahkan pada Tuhan untuk melayani masyarakat khususnya korban gempa melalui program rehabilitasi ini. Sebagai koordinator ia selalu melakukan bagiannya dengan penuh kesungguhan, tanggung jawab, keseriusan, kesiapsiagaan dan kewaspadaan... ( hehehe emangnya satpam yeee....)
Sebelumnya Rimba ragu menerima tanggung jawab ini karena dia masih menjadi asisten dosen : mengajar mahasiswa dan selain itu juga mengerjakan suatu proyek di Kalimantan. Setelah memutuskan untuk bergabung dalam tim ternyata Tuhan mulai menaruh keterbebanan yang kemudian berkembang menjadi panggilan yang memotivasi untuk terus melanjutkan pelayanan ini. Melalui keterlibatan dalam tim ini Rimba telah mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman baru dan suatu keyakinan bahwa harga yang telah dibayar dengan meninggalkan proyek dan agenda pribadinya tidak akan sia-sia karena inilah yang paling bernilai bagi Tuhan.
|
|
Iwan adalah warga asli Yogyakarta yang menjadi pemilik dan pengusaha beberapa rumah makan dengan menu masakan tradisional Yogyakarta, yang saat ini masih menimba ilmu di jurusan tata boga Akademi Kesejahteraan Sosial Tarakanita. Menurutnya belajar itu demi masa depan yang lebih baik dan agar bisa lebih lagi mengabdikan diri pada Tuhan dan sesama melalui seluruh kemampuan dan miliknya. Di tengah segala kesibukan bisnis dan studi dia menyediakan waktu dan tenaganya menjadi koordinator lapangan yang bertanggung jawab untuk pembangunan rumah di Sengon Kerep dan Sewon. Inilah sebabnya ia sering dicari-cari oleh warga Sewon maupun sengon Kerep alias banyak penggemar gituuu karena dipandang sangaaaaat berjasa dan jadi ”hero” di daerah ini ? batmaan kaleee... eh maksudnya blackman !! ( untung bukan dicari karena lupa bayar utang pada penjual gedheg ? )
Kesungguhan dan dedikasinya menjadi hal yang mendorong semangat bagi tim ini.
Dalam seluruh proses kerja tim, Iwan makin dibukakan akan kebutuhan untuk menjangkau orang-orang yang belum percaya dan terus berdoa agar dia dapat menjadi seorang ”tentmaker” yang membawa misi kasih Tuhan pada sesama melalui profesinya.
|
|
Mahasiswa yang berasal dari Nganjuk Jawa Timur kuliah di jurusan manajemen Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta. Di dalam Tim Syalom ia bertanggung jawab dalam penyediaan material. Setelah masa pelayanan sebagai pengurus Persekutuan Mahasiswa Kristen di kampusnya, Tuhan menjawab kerinduannya untuk tempat pelayanan yang baru dengan memberikan kesempatan untuk melayani melalui program ini. Si bungsu – yang termuda - dalam tim ini selalu bersedia belajar dari anggota-anggota tim lain dan berusaha untuk memahami orang lain sementara ia juga terus bertumbuh dalam kasih dan karakternya. Semua yang dilakukannya dalam pelayanan ini menjadi suatu pelajaran tersendiri untuk lebih peka terhadap kebutuhan sesama dan terus membuka diri pada pimpinan Tuhan dalam hidup dan masa depannya. Adi selalu menjadi rekan yang sangat kooperatif dan mendukung dengan segala keceriaan dan kesediannya.
|
|
Dedy adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan ilmu komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta. Sementara melaksanakan tanggung jawab dalam studi untuk menyelesaikan skripsi, ia juga berbagian dalam tim ini sebagai penanggung jawab bidang transportasi dan logistik. Kerinduaan terbesar dan pergumulannya adalah pada tahun ini boleh menyelesaikan studinya. Dia juga bersyukur dan banyak belajar karena melalui tim ini, dia merasa diteguhkan atas panggilannya untuk nantinya kembali ke kotanya di Batam untuk melayani suku melayu.
|
|
Bendahara Tim Syalom ini adalah ibu dari seorang putra yang bekerja sebagai guru bahasa Indonesia bagi beberapa misionari dari luar negeri yang sedang melayani di Yogyakarta. Dia juga mengajar bahasa Inggris secara privat untuk anak-anak. Ibu Mega yang sangat ramah dan baik hati ini tempat tinggalnya sering dipakai untuk ngumpul dan koordinasi tim karena selalu ada cukup ”logistik” bagi anggota tim yang lembur dan sering kelaparan serta siap menguras habis isi lemari es Ibu Mega. Ibu Mega dengan kemurahan hati akan memasakkan indomie, membuat teh atau kopi, menggoreng tahu, ubi, snack, dll hmmm pokoknya hal-hal kecil yang benar-benar menghasilkan dampak besar sehingga tim ini makin semangat mengerjakan tugas yang besar ini.
|
|
|