• PDF

Kesaksian Hidup Tanpa Pengabaran Injil adalah OK

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 30 Juni 2014 16:02
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
  • Sudah dibaca: 3479 kali
Suatu saat menjelang usai pekerjaan gw, gw diberitahu bahwa manajer gw pengen ketemu gw. Dengan tanpa prasangka ya gw menuju kantor manajer. Gw kira ada sesuatu yang mau dibicarakan mengenai pekerjaan. Ternyata enggak. Dia cuma nanya sambil menunjukkan sebuah kitab.

“Ini punya elu?’ tanyanya. Ternyata kitab itu Alkitab. Bukan jawab gw. Kenapa gw tanya lebih lanjut. Dia cuma bilang karena Alkitab itu udah 2 hari nongkrong di depan meja penerima tamu.

Dia bilang, “Ya kita prihatin aja kalau ada seseorang yang sengaja meletakkan Alkitab itu disitu.” Gw tahu manajer gw bertanya begitu karena dia tahu gw orang Kristen. Asal tahu aja meski katanya Kanada itu “negara Kristen” tetapi kalau hal-hal berbau keagamaan di tempat kerja (tempat umum) itu menjadi sensitif dan tabu. Mungkin manajer gw tahu kali kalau orang Kristen itu suka memberitakan Injil. Suka memberi traktat atau Alkitab.

Karena Alkitab itu bukan punya gw, dia minta gw memberikan Alkitab itu ke bagian administrasi. Maka sambil membawa Alkitab itu kepada Denny bagian admin, gw berkata; “Den, ini gw ada sesuatu yang baek buat elo.”

Dia malah balik bertanya, “Kenapa elo bawa itu kitab ke gw?” Gw beritahu aja bahwa sang manajer pengen Alkitab itu diberikan kepadanya untuk diapain gw juga kurang tahu.

Gw cuman nyentil aja, “Den elo perlu baca tuh kitab.”

Eh si Denny malah menjawab, “Tengkyu, gw gak bakal baca tuh kitab. Karena gw tau gw bakal masuk neraka.” Jawab si Denny dengan entengnya.

Gw gak mau kalah, “Gw pikir elo gak tahu apa itu neraka. Kalau elo tahu, elo bakal gak mau masuk kesono.” Si Denny cuma ngomong, “well gw enggak tertarik ama agama. Karna gw bukan orang yang beragama.”

“Eh tau enggak, kalo kita merasa susah hidup di dunia ini, apalagi di neraka bakal 100 kali enggak enak. Gw kira ini bukan hal beragama apa enggak lho, tapi gimana dengan hidup kita setelah di bumi ini.”

Eh dia malah ngebalik, “Kamu koq jadi serius? Gw kira kita cuma basa-basi aja.”

“Well mungkin kita basa-basi, tapi hal ini kenyataan lho,” jawab gw.

“Eh tau nggak, gw enggak tahu kalo neraka itu ada apa enggak, tapi gw nggak mau pusingin hal itu,” kata si Denny dengan nada mulai meninggi.

Gw tahu gw enggak mau percakapan kita itu nanti jadi pertengkaran. Karena gw mengawali percakapan itu tanpa kepikir bakal jadi serius. Maka gw hanya mengakhiri dengan, “Paling enggak elo mungkin bisa baca Alkitab ini.”

“Tahu enggak Alkitab ini bakal menuh-menuhin bak sampah gw!” Balasnya sengit.

“Den daripada dibuang kenapa kamu enggak berikan kepada orang yang membutuhkan membaca buku itu.” Dia hanya membalas, “Itu bukan urusan elo!”

Gw sih enggak heran ama jawaban teman sekerja gw itu. Sikap yang udah umum. Padahal banyak orang tuh ngakunya, “Iya gw percaya Tuhan tuh ada.” Tuhan yang gimana, modelnya apa; pasti mereka kagak bisa jelasin. Pokoknya gw percaya ada Tuhan, titik. Tentu tuhan yang dimaksud sesuai dengan pikirannya.

Bukan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini. Tapi tuhan yang abstrak mungkin. Seringkali banyak orang pengen bukti Tuhan. Tapi dibuktikan dengan Kebenaran, mereka hanya akan menolak karena tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Manusia pada umumnya akan ‘percaya’ Tuhan itu ada karena mereka sukses, mereka mengalami mujizat, mereka melihat (terbukti) sesuai dengan logika mereka.

Maka sebagai orang percaya, adalah tugas kita untuk memberitakan kabar baik, kabar yang benar supaya banyak orang mengenal siapa Tuhan Yesus. Tentu hal itu tidak mudah. Keinget seorang teman yang bercerita bahwa dia mempunyai seorang teman yang udah divonis ama dokter karena kanker, hidupnya gak lebih dari 2 bulan. Begitu pun orang tersebut marah ketika sang teman memberitakan kabar baik.

Tugas orang percaya masih banyak dan panjang, meski tidak sedikit orang yang berlabel Kristen tidak pernah mengabarkan Injil dengan berbagai alasan (yang masuk akal). Tetapi sebagai orang Kristen yang sejati mau enggak mau dia pasti gak tahan untuk tidak memberitakan kabar baik kepada orang laen. Bukan dipaksa-paksa, bukan ikut-ikutan, tapi otomatis. Menjadi bagian gaya hidupnya.

Tentu hal itu bukan karena kehebatan kita, kemauan kita atau usaha kita; tetapi karena Kasih Karunia Tuhan yang telah kita terima dan mengisi hidup kita, sehingga Roh Kudus memimpin hidup kita untuk memberitakan Kabar Baik itu. Mungkin gw bukan pengabar Injil yang baek, tetapi senantiasa belajar untuk mengarah kesana. Kesaksian hidup tanpa Pengabaran Injil adalah OK (Omong Kosong).

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Roma 10:14,15)
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."