• PDF

Gembala & Domba

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 14:34
  • Ditulis oleh Saumiman Saud
  • Sudah dibaca: 3498 kali

Seorang Gembala yang baik semestinya ia bukan gembala upahan, artinya hanya menerima upah baru bekerja, sebaliknya kalau tidak diberi upah maka ia tidak bekerja. Gembala yang baik sangat memerhatikan domba-dombanya, sedikit saja dombanya mengalami bahaya, maka ia akan menolong, membela, mencari dan melindungi. Itu sebabnya maka Gembala yang baik sangat disayang oleh domba-dombanya, ibarat kalau kita memelihara “Anjing”, ekornya akan bergoyang-goyang menyambut kedatangan sang tuannya. Anjing yang sedang goyang-goyang ekornya itu tidak akan menggigit tuannya, karena Anjing itu di dalam kondisi yang suka-cita atau gembira.

 

Gembala yang baik tidak boleh begitu saja meninggalkan domba-dombanya, apalagi kalau ada binatang buas yang sedang mengancam, itu sebabnya maka gembala yang baik harus berjuang keras supaya domba-dombanya ditolong dan diselamatkan. Tentu berbeda dengan gembala upahan, tatkala bahaya mengancam, maka gembala itu akan lari pontang–panting menyelamtakan diri. Yang penting dirinya selamat, masalah domba itu urusan nanti, sebab bukan miliknya.

Domba itu binatang yang bodoh, penglihatannya juga kurang tajam, sering tersesat. Itu sebabnya Gembala yang baik harus mencari domba-domba yang tersesat atau hilang, makanya di Alkitab ada perumpamaan yang menceritakan, seorang Gembala yang baik rela meninggalkan 99 ekor dombanya demi mencari 1 ekor domba yang hilang atau tersesat. Sesudah ditemukan sang gembala tidak memukulnya malahan diberi makanan enak, tubuhnya diperiksa dari mulai ujung rambut hingga ujung kaki, dan kalau ternyata ada yang luka maupun lecet maka akan diminyaki atau diobati.

Rupanya domba-domba itu mengenal suara Gembalanya, selain itu mereka juga sudah tahu sifat Gembalanya, bahkan kemauan sang Gembala juga terdeteksi oleh sang domba. Sebaliknya sang Gembala mengenal nama-nama domba-domba karana dihafal satu persatu, walaupun kadang ada satu domba yang tidak mau turut perintah, namun Gembala yang baik tidak pernah menaruh dendam pada domba-dombanya, ia rindu domba-dombanya itu senantiasa terpelihara dan kembali ke kandang..

Raja Daud sangat mengerti dan memahami serta menyelami apa itu “Gembala yang baik”. Sejak kecil ia menjadi seorang Gembala. Ternak-ternak ayahnya yang dijaga dan dipelihara. Dengan demikian Daud adalah patron seorang Gembala yang bukan upahan, sebab ia menggembalakan domba-domba milik orang tuanya. Daud sendiri menceritakan tentang “sosok seorang Gembala” pada waktu itu. Seorang Gembala tidak akan menggembalakan domba dengan tangan kosong. Ia membawa peralatan Gada dan Tongkat. Gada itu semacam alat pemukul, yang bentuknya seperti pentungan kasti atau Satpam, sedangkan “Tongkat” itu bentuknya seperti tongkat yang dipakai oleh orang tua, yang ujungnya ada sedikit melengkung untuk pegangan.

Gada dipakai untuk membela, melawan dan memukul musuh, dalam hal ini binatang-binatang buas, sedangakan tongkat dipakai untuk menghalau domba-domba. Kadang rupanya domba-domba itu agak nakal, sehingga tidak mau menuruti petunjuk jalan sang Gembala, sehingga ada yang tersesat dan masuk jurang. Itu sebabnya Tongkat  itu berguna untuk mencantol leher domba yang tidak mau menurut atau mengangkatnya dari jurang.

Daud melukiskan bahwa Allah sendiri adalah seorang Gembala, hal ini dapat dibaca di dalam Mazmur 23. Gembala yang baik akan membawa domba ke air yang tenang, dan juga melindungi mereka. Dengan demikian para domba itu dapat hidup dengan tenang tidak merasakan kekuatiran. Bagi Daud, Allah itu Gembala yang baik. Liku-liku kehidupan Daud yang penuh bahaya, kadang mendapat serangan bertubi-tubi dari musuh, terutama dari Saul sang mertuanya. Meskipun bahaya maut telah di depan mata, namun Daud tetap saja di bawah perlindungan Tuhan, sehingga ia selalu bebas dari sentuhan Saul dan seluruh pasukannya. 

Para pelayan Tuhan juga mesti menjadi Gembala yang baik. Dengan demikian anda yang menggondol gelar guru Sekolah Minggu, penginjil dan pendeta, seharusnya berjiwa dan hati seperti Gembala Agung, seperti yang dilukiskan oleh Daud ini. Demikian juga dengan domba-domba, mereka saat ini adalah jemaat Tuhan. Jemaat Tuhan juga harus mengasihi sang Gembala itu.

Tadi kita katakan bahwa Gembala yang baik itu tidak akan meninggalkan domba-dombanya? Apakah ini benar? Tentu benar bukan? Namun yang menjadi masalah adalah, kadang gara-gara satu dua domba dalam hal ini jemaat yang sentimen atau kurang senang pada sang Gembala atau pendeta, maka sangat memungkinkan sang Gembala itu pergi. Apalagi mereka itu adalah “orang-orang penting” di gereja. Yang dimaksud dengan “orang-orang penting” di gereja, kemungkinan besar mereka adalah para mantan majelis, atau  majelis itu sendiri, jemaat yang sekali memberikan persembahannya dalam jumlah yang besar. Orang-orang penting seperti ini tidak boleh “disentuh“ di gereja, sebab kita bisa terpelanting.

Lalu bagaimana mempraktekkannya agar sang Gembala tetap adalah Gembala yang baik? Gembala yang baik adalah gembala yang sangat sayang pada domba-dombanya, tidak akan meninggalkan dombanya begitu saja. Namun karena saat ini sang Gembala hidup di dalam organisasi gereja, maka karena masalah di atas dapat juga menyebabkan seorang gembala/pendeta seakan-akan putus hubungan kerja dengan organisasi gereja itu. Nah, pada tahap seperti inilah timbul pertanyaan untuk kita, kesalahan apa bila seorang  gembala/pendeta pergi membawa domba-domba yang dikasihi dan mengasihi supaya tetap dipelihara, bukankah itu adalah domba-dombanya? Mengapa pandangan umum selalu mempersalahkan sang Gembala,  kalau suatu saat ada seorang Gembala yang baik, yang ternyata kemudian mendapat perlakuan yang tidak baik oleh satu dua orang dikarenakan ia punya jabatan dan uang, dan tatkala sang Gembala tidak tahan serta terpaksa pergi, lalu ia membawa serta domba-dombanya? Salahkah Gembala itu? Apakah ada ayat yang mendukung dan mengecam sang Gembala?


******************************************

*) Alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang, saat ini melayani di Gereja Injili Indonesia San Jose, California USA. penulis buku MENGENAL DIA LEBIH DALAM terbitan Kairos 2004 Jogjakarta dan DINAMIKA KEHIDUPAN ORANG PERCAYA terbitan Yasinta, 2004 Jakarta. Buku selanjutnya yang sedang dalam proses penerbitan Juli 2005 ini oleh penerbit Kairos Jogjakarta, berjudul  PENDETAKU DICACI & DIPUJI

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
ribka  - Gembala dan domba   |125.163.30.xxx |24-09-2009 16:10:36
ribka   |125.163.30.xxx |24-09-2009 16:11:11
penting euy
ribka   |125.163.30.xxx |24-09-2009 16:14:46
Husor Hutabarat  - Evangelis jadi pemimpin di dalam satu gereja   |114.79.0.xxx |30-06-2012 19:38:36
sylom..
saya yang bernama Husor HUtabarat yang ingin mengajukan
pertanyaan..
siapa sesungguhnya jadi pemimpin dalam suatu gereja?apakah
gemabala atau evangelis yang ada? apa tugas evangelis tersebut?
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."