• PDF

Siap Setiap Saat

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 11:06
  • Ditulis oleh Agustina Wijayani
  • Sudah dibaca: 2830 kali
Hari itu aku sepertinya bakal "santai" karena tak ada tugas khusus yang mesti kulakukan; seperti pujian, firman, games, atau aktivitas. Semua sudah ada yang bertugas. Walaupun demikian, aku tetap tak akan bersantai. Aku tahu setiap kesempatan beribadah merupakan "jam kerja" yang mesti kupertanggungjawabkan dengan dedikasi yang tulus kepada Allah.

Aku pun terlibat dalam kebaktian sebagaimana biasanya, dengan kesungguhan yang tak pernah ingin aku kurangi. Sementara larut dalam pujian bersama anak-anak, tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu. Temanku yang bertugas membawakan firman belum datang! Ups, aku harus segera berbuat sesuatu, nih. Cepat-cepat aku keluar dan berusaha mencari buku pegangan di kelas yang lebih besar. Segera kubolak-balik halamannya dan mencari cerita yang bisa kupelajari secara singkat.

Aku menemukan satu cerita ilustrasi yang menarik dan bisa disampaikan untuk anak-anak di kelasku. Segera kucari satu sudut ruang yang tenang, dan kufokuskan seluruh perhatianku untuk mempelajari ceritanya. Sementara mataku nanar menelusuri beberapa lembar dari buku itu, dalam hati aku terus berdoa meminta pertolongan Tuhan. Aku tak berpikir apa-apa; mengeluh atau menyalahkan siapa-siapa. Aku cuma berharap, Tuhan memperhatikan dan menolongku untuk siap menyampaikan firman yang meski kusiapkan mendadak, tetapi tidak disampaikan dengan asal-asalan.

Menyadari bahwa waktuku tidak banyak lagi, aku pun segera kembali lagi ke kelas. Dan benar, sesaat kemudian seorang temanku sudah memimpin anak-anak untuk berdoa menyambut firman Tuhan. Aku pun segera ikut khusyuk berdoa, memohon sekali lagi Allah menyertai dan mengurapi. Dalam hati, duh, ada "dag-dig-dug" yang cukup kencang juga. Apalagi melihat anak-anak dan para pengantar yang cukup banyak hari itu. Yah, tak adil rasanya jika mereka tak mendapatkan firman yang mereka tunggu-tunggu untuk ditabur di tanah hati mereka, hanya karena kami sebagai guru tak siap memberikannya.

Tuhan, please help me, demikian bisikku sekali lagi saat kuterima mikropon dari temanku. Dan begitulah, sepanjang membawakan cerita aku terus berharap Allah sendiri akan berfirman melaluiku. Melalui otakku yang mengolah cerita, melalui mulutku yang memproduksi kata-kata paling sederhana, dan melalui seluruh tubuhku yang mencoba mendaratkan cerita bagi anak-anak. Dan puji Tuhan, aku menyelesaikannya dengan baik. Kami berdoa bersama, memohon Allah terus berbicara di hati anak-anak.

Yah, aku belajar sesuatu lagi hari itu. Satu, secara teknis aku jadi sadar mesti selalu siap dengan minimal satu cadangan cerita yang siap dibawakan setiap saat. Demikian pula dengan tugas-tugas lain; satu rangkaian pujian, satu jenis aktivitas dan atau permainan. Dua, aku belajar bahwa seorang guru Sekolah Minggu harus selalu siap bekerja setiap kali ia dibutuhkan. Tanpa mengeluh. Tanpa marah-marah. Tanpa saling menyalahkan. Jadi, bukan hanya siap cerita, tetapi juga siap bekerja dengan hati yang selalu senang. Yah, karena memang itu tugasku. Tanggung jawabku. Dan aku percaya, Yesusku tak akan membiarkan aku bekerja sendiri. Terutama di saat-saat genting seperti yang kualami. Dia pasti menemani. Dia pasti menyertai.

Jogja, 19 Januari 2004

Tina