|
Prinsip 3S untuk Mengerti Kehendak Tuhan
Oleh: Sendjaya
Bagaimana kita dapat
mengenali apa yang Tuhan mau dalam hidup kita? Berikut tiga langkah
praktis, Prinsip 3S:
1. Saturate your mind with the Word of God
Jika kita ingin tahu kehendak Allah, bacalah
firman Allah karena Allah menyatakan kehendak-Nya disana. Dalam
firman Allah kita beroleh prinsip-prinsip penting untuk membantu
kita mengambil keputusan-keputusan yang tidak secara eksplisit
diperintahkan atau dilarang oleh firman Allah.
Yang menarik disini adalah seringkali kita tahu
bahwa Allah menghendaki A, tapi kita masih mencoba bertanya apakah
mungkin Allah menhendaki B. Misal, seorang pemuda Kristen jatuh
cinta pada pandangan pertama dengan seorang pemudi yang tidak
seiman. Lalu dia bertanya, "mungkinkah kehendak Tuhan utk aku
menikahinya sehingga ia bisa diselamatkan?" Jawabannya tentu
tidak. Karena firman Tuhan jelas berkata bahwa pasangan seiman itu
adalah syarat mutlak (dan dalam prakteknya, memang prinsip tersebut
ternyata sangat penting). Jika kita mau taat kepada firman Allah
yang eksplisit, akan banyak hal dalam hidup kita yang kita tidak
perlu bingung dan kuatir manakah kehendak Allah.
Masalahnya ada dua. Pertama, kita mungkin tidak
menyelami firman Tuhan sehingga tidak tahu mana kehendak Tuhan.
Tukang masak yang jago selalu bilang bahwa agar masakan lezat,
daging harus di-marinate sampai meresap ke tulang-tulangnya.
Demikian juga seharusnya pikiran kita perlu di-marinate dengan
firman Tuhan. Kedua, kita mungkin tahu mana kehendak Tuhan, tapi
tidak bersedia untuk taat.
Prinsip yang penting disini adalah bahwa
"OBEDIENCE is the ORGAN OF SPIRITUAL KNOWLEDGE",
sebagaimana Yesus sendiri berkata, "Barangsiapa mau melakukan
kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah,
entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri." Semakin
kita taat, semakin kita peka menangkap kehendak Tuhan. Semakin taat,
semakin mengerti kehendak-Nya. Bukan mengerti dulu baru taat, tetapi
taat dulu baru mengerti, dan semakin taat semakin mengerti.
Dalam
banyak area hidup kita, Alkitab memang berdiam tidak berkata
apa-apa. Misal: Alkitab mengajarkan bahwa "jika seorang tidak
mau bekerja, janganlah ia makan" (2 Tes 3:10). Tapi Alkitab
tidak memberitahu di bidang apa kita harus bekerja, sebagai apa, di
kota apa, dst. Alkitab mengajarkan bahwa menikah harus dengan
pasangan seiman: "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak
seimbang dengan orang-orang yang tak percaya" (2 Kor 6:14).
Tapi Alkitab tidak memberitahu kita saudara seiman yang mana yang
kita meski nikahi. Dan tentu 1001 hal lainnya. Setelah studi, mau
tinggal di Australia atau pulang ke Indonesia? Mau punya anak atau
tidak, kalau ya, berapa biji, eh... berapa banyak? Beli orange juice
dan pakai shampoo mau merk apa? Dan lain-lainnya....
Itu
sebab yang kita perlukan adalah pikiran yang telah diperbarui,
dibentuk, dan dipimpin oleh kehendak Allah yang dinyatakan dengan
eksplisit dalam Alkitab. Dengan demikian, kita memiliki kepekaan
(discerment) untuk menganalisa setiap keputusan dengan pikiran
Kristus. Hal ini tidak instan-supranatural. Tetapi sebuah proses
yang panjang. Bergumul dan berusaha bergaul dengan firman Allah
sehingga kita memiliki kepekaan untuk mengaplikasikan firman Allah
dalam area-area dimana Alkitab tidak mengatur secara eksplisit. Jika
kita mencari kehendak Allah dengan hanya bersandar pada mimpi dan
suara Allah yang audible, wahyu, dan tanda-tanda konkrit dari Allah
untuk memberitahu kita apa yg kita harus lakukan, kita tidak akan
pernah berusaha memiliki pikiran yang ditransformasi &
dikuduskan oleh kebenaran firman-Nya. Yang Allah inginkan adalah
transformasi pikiran kita - "Janganlah kamu menjadi serupa
dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,
sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah" (Roma
12:2).
2. Seek Advice from mature Christians
Inilah fungsi komunitas umat Allah. Saling
menasihati, mengajar, menegur, membangun satu sama lain. Jika setiap
keputusan penting dalam hidup kita, kita coba konsultasikan dengan
10 orang yg kita anggap dewasa dalam iman dan mengenal kita cukup
dekat, maka kita akan beroleh konfirmasi atau diskonfirmasi apakah
keputusan tersebut benar-benar kehendak Allah atau agenda pribadi
kita. Sebab tidak jarang Allah menyatakan kehendak-Nya lewat
orang-orang tersebut.
Mau pacaran dengan seorang pria/wanita?
Bertanyalah kepada 10 orang tsb, apakah mereka melihat ada kecocokan
dari sisi kedewasaan iman, kesamaan beban pelayanan, compatibility
kepribadian, dst. Mau pindah kerja? Coba konsultasi dengan mereka
bertanya tanggapan mereka ttg dampak pekerjaan yg baru pada
keluarga, pelayanan, visi hidup pribadi, dst. Jika mereka mau serius
mendoakan keputusan tersebut dan dapat memberi nasihat yang kental
dengan prinsip firman, Anda adalah orang yang sangat diberkati,
karena tidak banyak orang Kristen yang dikelilingi oleh
mentor-mentor rohani seperti itu!
3. Scrutinize your situation
Langkah terakhir adalah mencermati
sungguh-sungguh konteks hidup kita sendiri. Benarkah Tuhan mau Anda
punya anak yang ketiga, misalnya, jika realitanya selama ini dengan
dua anak saja Anda sudah kewalahan memberi waktu yang cukup sebagai
seorang ayah atau ibu? Apakah tawaran pekerjaan di
kota
baru itu (dengan gaji yg lebih tinggi tentunya) perlu diambil bila
itu berarti Anda harus meninggalkan peran strategis Anda di tempat
yg sekarang yang notabene lebih sejalan dengan panggilan hidup Anda?
Kebutuhan pelayanan ada dimana-mana, masalahnya apakah saya harus
ambil satu lagi bidang pelayanan, sementara waktu pribadi bersama
Tuhan sudah sangat minim akhir-akhir ini? Apakah saya harus keluar
kerja dan studi tahun ini atau tunggu sampai tabungan lebih besar?
Selama ini dalam mengambil keputusan, setelah
menganalisa seluruh aspek hidup saya (keluarga, pekerjaan, gereja,
persekutuan, dll), saya mencoba bertanya, apakah ada kepastian
(damai sejahtera) untuk melangkah? Saya suka prinsip yang Allah
berikan kepada Yusuf dan Maria untuk tetap tinggal di Mesir ketika
bayi Yesus diburu oleh Herodes yang paranoid itu: "Stay there
until I tell you" (Matius 2:13). Jika tidak ada kepastian
melangkah, maka "stay there." Sampai kapan? Sampai Tuhan
bilang kita harus melangkah. Jika Allah menyatakan kehendak-Nya pada
Musa setelah 80 tahun Musa menunggu-nunggu, maka mungkin kita mesti
belajar lebih berani berserah pada waktu Tuhan.
Dr
Sen Sendjaya
http://sendjaya.blogspot.com/
|