Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

 

Sinterklas Politik?
Oleh RP Borrong

Siapa tak kenal Sinterklas atau Santa Claus? Anak-anak di seluruh dunia mengenalnya sebagai kakek yang baik dan murah hati. Suka bagi-bagi hadiah dan menghibur anak-anak. Tetapi tahukah kita gagasan utama dalam legenda tentang Sinterklas itu? Menjelang Natal seperti sekarang ini, mengingatkan kita pada salah satu tradisi di sekitar Natal yaitu Sinterklas. Apakah makna legenda Sinterklas dalam kehidupan masyarakat kita? Apakah ada hubungan tradisi Sinterklas dengan pembangunan di Indonesia?

Siapa Sinterklas?
Nama asli Sinterklas adalah Santo Nikolas (St Nicholas). Ia dikenal juga sebagai Nikolas dari Bari atau Nikolas dari Myra. Legenda tentang Santo Nikolas diperkirakan mulai muncul pada abad keempat Masehi. Ia dikenal sebagai Nikolas dari Myra karena menurut legenda ia lahir di Myra - Lucian, dekat Finike, Turki di Asia kecil.

Dalam tradisi gereja, peringatan hari Santo Nikolas dirayakan pada tanggal 6 Desember. Ia dianggap sebagai salah seorang santo minor yang paling populer diperingati dalam gereja-gereja di Barat dan Timur. Sampai sekarang secara tradisional dihubungkan dengan perayaan Natal, walaupun sama sekali tidak ada hubungannya dengan kelahiran Yesus Kristus.

Keberadaan Nikolas tidak didukung oleh dokumen sejarah apa pun. Kehidupannya dibungkus oleh misteri. Menurut tradisi, dia dilahirkan di Lucian Kuno, kota pelabuhan laut di Patara. Konon pada masa mudanya ia mengadakan perjalanan ke Palestina dan Mesir. Ia menjadi uskup di Myra segera setelah ia kembali ke Lucia pada abad ke-4 Masehi. Ia dipenjarakan selama kekuasaan Kaisar Diokletianus, Kaisar Romawi yang terkenal menganiaya orang Kristen.

Ia dibebaskan kembali saat Kaisar Konstantin Agung memerintah. Konon ia menghadiri konsili (sidang sinode ekumenis) gereja I di Nicea tahun 325. Konsili ini dikenal sebagai konsili yang menetapkan kesamaan hakikat antara Allah Bapa dengan Yesus Kristus: Yesus Kristus Putra Allah.

Setelah wafat, Santo Nikolas dimakamkan di gerejanya di Myra. Pada abad ke-6, makamnya sudah dikenal baik. Pada tahun 1087, pelaut atau pedagang Italia mencuri sisa-sisa mayatnya dari Myra dan membawanya ke Bari di Italia. Itu sebabnya ia juga dikenal sebagai Nikolas dari Bari. Pemindahan sisa-sisa mayat dan benda-benda Santo Nikolas yang dianggap suci ini meningkatkan popularitas sang Santo di Eropa. Bari segera menjadi salah satu tempat ziarah paling ramai di Eropa. Sisa-sisa mayat Santo Nikolas ditempatkan di dalam Basilika San Nicola di Bari pada abad ke-11.

Reputasi Nikolas di bidang keramahan dan kebaikan hati sangat terkenal. Ada sejumlah legenda mengenai mukjizat yang ia lakukan untuk orang miskin. Misalnya ia memberikan mas kawin kepada tiga orang gadis miskin yang dipaksa menjadi pelacur. Dengan perbuatan baik itu, ia membebaskan mereka. Konon ia juga pernah menghidupkan kembali tiga anak yang sudah diiris-iris oleh tukang jagal dan menaruh irisan daging mereka dalam bak penggaraman. Tentu saja mukjizat ini pun merupakan legenda atau tradisi yang tak bisa dibuktikan kebenarannya. Tetapi atas dasar itu Santo Nikolas dipuja dan disembah sebagai seorang suci sang pelindung orang susah.

Pada Abad Pertengahan penyembahan kepada Santo Nikolas meluas di Eropa. Ia disembah sebagai Santo Pelindung untuk kasih sayang, persaudaraan dan persekutuan anak-anak, pelaut, pedagang, gadis-gadis tak nikah dan peminjam uang gadai di Rusia dan Yunani dan di beberapa kota seperti Fribourg, Switz dan Moskow.

Konon ribuan gedung gereja di Eropa telah dibangun sebagai penghormatan kepadanya. Salah satu yang terkenal dibangun pada abad ke-6 di Konstantinopel (Istanbul) oleh Kaisar Romawi, Yustinus I. Mukjizat Nikolas merupakan subjek yang menarik bagi seniman-seniman dan pemain-pemain liturgi abad pertengahan. Tanggal 6 Desember, yaitu hari festifal untuk Santo Nikolas, dijadikan upacara putra-putra Uskup. Pada hari itu anak-anak muda mengenakan pakaian khusus dan seorang anak akan dipilih oleh Uskup untuk dinobatkan sebagai putera Uskup sampai perayaan Hari Suci Innocent pada tanggal 28 Desember.

Tradisi Protestan Belanda
Sesudah reformasi, perayaan hari Nikolas menghilang dari semua negara penganut Protestan di Eropa kecuali di Belanda. Di Belanda legenda Santo Nikolas dilanjutkan sebagai Sinterklaas (suatu varian bahasa Belanda tentang nama Santo Nikolas). Perantau Belanda membawa tradisi ini ke koloni orang Belanda di New Amsterdam (kini New York), Amerika, pada abad ke-17. Tradisi Sinterklas diadopsi oleh mayoritas orang berbahasa Inggris dengan nama Santa Claus. Legendanya sebagai seorang tua dikaitkan dengan cerita rakyat Nordic tentang seorang ahli tenung yang menghukum anak-anak nakal tetapi memberi hadiah kepada anak-anak yang baik.

Dalam versi modern di Indonesia, Sinterklas seringkali dipasangkan dengan Piet Hitam. Dua sifat Santa Claus dipersonifikasi dalam dua tokoh antagonistik.

Penggambaran tentang Santa Claus di Amerika Serikat mengkristal pada abad ke-19. Sejak saat itu legenda Santa Claus menjadi pola pesta bagi-bagi hadiah di hari Natal. Berbagai ragam tradisi Santo Nikolas telah ditransformasi ke dalam sikap seorang murah hati dan figur pemberi hadiah, khususnya di Belanda, Belgia dan Eropa Utara. Di Inggris, Santa Claus di kenal sebagai Bapa Natal (Father Christmas).

Di Indonesia, dengan penampilan kakek berambut dan berjanggut putih, berkimono dan berpeci runcing berwarna putih serta merah, memberi semarak kebahagiaan dan keceriaan pada anak-anak. Ditambah suaranya yang memancing tawa anak-anak.

Santa Claus atau Sinterklas selalu dinantikan kehadirannya oleh anak-anak menjelang Natal untuk membawa hadiah. Di Barat anak-anak menggantung kaus kaki berisi tulisan harapannya di jendela atau pintu kamarnya dengan harapan akan diisi oleh Santa Claus dengan hadiah yang sesuai impiannya. Orang tua memanfaatkan momentum ini mempersiapkan hadiah yang cocok bagi anak-anaknya untuk memberi gairah dan semangat hidup yang optimistik.

Tradisi Sinterklas di Indonesia diwarisi dari Negeri Belanda. Karena itu nama Sinterklas lebih populer dari nama Santa Claus. Saking populernya, kebiasaan membagi-bagi sesuatu telah diidiomkan dengan istilah seperti sinterklas. Tetapi penggunaan idiomatik itu tidak tepat karena kita hanya melihat dari sudut pandang membagi-bagi tanpa melihat alasan di balik kegiatan membagi-bagi hadiah tersebut.

Di atas telah disinggung bahwa Santo Nikolas identik dengan pelindung orang susah. Karena itu gagasan di baliknya adalah perhatian kepada orang yang lemah. Kebiasaan membantu orang lemah dengan memberi ikan dan bukan pancing biasanya disebut sebagai bantuan Sinterklas. Pemahaman ini tentu saja keliru tetapi juga praktiknya menjadi keliru pula.

Banyak pejabat di Indonesia suka membagi-bagi proyek ke daerah. Bisanya sang pejabat digelari sebagai Sinterklas atau Santa Claus. Tetapi tanpa mempersoalkan apa alasan sang pejabat tersebut bagi-bagi proyek dan uang siapa yang ia sedang bagi-bagi kepada masyarakat? Sudah menjadi rahasia umum bahwa sikap-sikap seperti itu mencerminkan Sinterklas Politik dan bahwa uang yang dibagi-bagi itu adalah uang rakyat tetapi seolah harta pejabat yang diberikan karena kemurahan hati sang pejabat.

Sebenarnya sikap itu mencerminkan kecenderungan pembangunan kita di Indonesia yang kurang perencanaan dan terkesan hanya sebagai proyek para pejabat. Tujuannya tentu saja untuk kepentingan politik. Membagi-bagi proyek supaya rakyat ketiban pulung terikat untuk memilih sang pejabat atau partai politik sang pejabat dalam pemilihan umum, baik di tingkat nasional maupun di tingkat lokal.

Tidak semua pejabat negara seperti itu, namun ada indikasi ke arah sana. Dana pembangunan yang memang hak rakyat disulap menjadi seolah berkat kebaikan dan kemurahan sang pejabat. Mungkin sebentar lagi akan banyak berkeliaran Sinterklas palsu membagi-bagi hadiah politik menjelang Pemilu.

Akibat dari pembangunan berpola Sinterklas adalah sikap pasif masyarakat. Membagi uang kepada kaum gelandangan di persimpangan jalan menyebabkan mereka menggantungkan hidup dengan menjadi peminta-minta. Pembangunan sentralistrik selama Orde Baru mematikan partisipasi daerah dalam gairah pembangunan bangsa. Otonomi daerah yang sedang digalakkan masih banyak menyisakan mentalitas Sinterklas baik dipihak pemerintah pusat maupun pemerintah dan rakyat di daerah. Pembangunan masih dipahami sebagai sejumlah proyek pemerintah atau proyek para pejabat. Rakyat miskin tidak termotivasi untuk berperan aktif dalam pembangunan.

Pembangunan berpola Sinterklas sebenarnya bukan pendekatan pembangunan yang mengatasi kemiskinan. Masyarakat miskin di Indonesia mungkin merasakan pembangunan sebagai hiburan saja. Mereka bisa menyaksikan dan menikmatinya sebagai hiburan tetapi bukan bagian dari hidup mereka. Pembangunan di Indonesia selama ini lebih banyak menciptakan kesenjangan karena tidak berpihak kepada rakyat. Proyek-proyek raksasa hanya dinikmati oleh orang-orang kaya atau pejabat yang bermodal. Pendekatan ini sangat berbeda dengan Sinterklas yang justru menjadi pelindung kaum miskin dan lemah.

Tradisi Sinterklas adalah tradisi yang membawa gairah, kegembiraan dan semangat hidup yang baru. Tradisi Sinterklas haruslah membawa semangat dan gairah masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan untuk mencapai cita-cita dan harapan bersama. Kita perlu mengisi tradisi Sinterklas dengan sikap proaktif dan kreatif seperti anak-anak yang selalu bergiat menantikan hadiah dari Sinterklas.

Selamat merayakan Natal dan menyongsong tahun baru 2004 dengan semangat dan kegembiraan hidup yang baru.

* Penulis adalah Ketua STT Jakarta. (Suara Pembaruan 201203).