|
|
|
Ketika Allah Melawat Kita
Oleh Pdt Weinata Sairin
KETERPISAHAN, keterasingan, ketidakbebasan, keterpenjaraan,
ketiadaan harapan adalah kondisi-kondisi yang secara realistik
membuat manusia mengalami penderitaan yang amat dalam. Seseorang
yang dipisahkan dari lingkungan keluarganya; yang diasingkan dari
negeri yang dicintainya; yang kehilangan pengharapan masa depan
adalah mereka yang menapaki kehidupan dengan penuh penderitaan.
Realitas penderitaan seperti itu pada gilirannya dapat mengancam
kehidupan manusia. Apalagi jika seseorang terus-menerus dicekam rasa
putus asa dan tidak mendapatkan penghiburan, penguatan, atau
pendampingan dari pihak lain. Hari-hari ini tatkala gereja-gereja
dan umat Kristen memasuki Natal, 25 Desember 2003, ada aspek penting
yang dapat digarisbawahi dalam konteks mengatasi realisme
penderitaan.
Peristiwa Natal, hari kelahiran Yesus Kristus, sejatinya memberi
perspektif dan kelahiran dalam arti yang biasa. Natal bukan
peringatan hari ulang tahun atau peringatan hari kelahiran dalam
arti yang biasa. Natal adalah peristiwa yang di dalamnya Allah
melawat manusia. Allah membebaskan dan memberdayakan manusia.
Amatlah tepat ketika dalam Injil Lukas, Zakaria dengan kekuatan Roh
Kudus melantunkan pujian. "Terpujilah Tuhan, Allah Israel sebab
Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan Bagi-Nya" (Lukas
1:68)
Pujian Zakaria ini mengungkapkan pokok-pokok yang amat penting dan
mendasar dalam konteks kehidupan manusia "Allah melawat
umat-Nya." Itu berarti bahwa Allah tidak tinggal diam terhadap
umat-Nya. Allah tidak membiarkan umat-Nya berjalan sendiri menapaki
jalan penderitaan. Allah concern, Allah peduli, Allah prihatin
terhadap umat-Nya. Kata 'melawat' mengandung arti 'mengunjungi',
menjenguk mereka yang dilanda kesulitan.
Melawat, berarti melihat secara langsung, tidak hanya memantau dari
jauh, menunggu laporan. Melawat adalah cheking on the spot. Melawat
juga berarti ungkapan adanya sikap solidaritas, adanya upaya membina
komunikasi/relasi yang lebih baik dengan orang lain. Dalam pujian
Zakaria, Allah tidak sekadar melawat tapi Ia juga membawa kelepasan
bagi umat yang tengah mengalami penderitan, mereka yang dirundung
pesimisme didatangi Allah dan dibebaskan dari pemasalahan yang
mereka hadapi. Inilah suatu kabar kesukaan bagi manusia.
Allah Sang Pembebas yang melawat umat-Nya adalah yang melepaskan
umat dari musuh serta orang-orang yang membenci mereka. Inilah
rahmat Allah yang sejak lama dijanjikan, bahkan telah diucapkan
sejak zaman Abraham. Muara dari semua tindakan pembebasan Allah itu
adalah seluruh umat dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam
kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya (Luk, 1:74,75). Kata
'melepaskan' mengacu pada pengertian membebaskan umat manusia yang
terbelenggu oleh rantai-rantai dosa, yang terpenjara oleh berbagai
hal, umat yang berada dalam cengkeraman keputus-asaan sehingga
mereka bisa menghirup udara baru yang dipenuhi masa depan ceria.
* * *
Allah yang dipuji oleh Zakaria dalam nyanyian pujiannya ini adalah
Allah yang bertindak dalam sejarah. Allah yang bergerak, Allah yang
benar-benar prihatin dengan pergumulan hidup manusia. Allah bukanlah
hanya kuasa transenden, kuasa yang melihat dari 'atas'. Dia juga
terlibat dalam sejarah manusia: Dia adalah Immanuel, Allah beserta
kita, Dia Immanen, Dia tinggal bersama kita.
Itulah sebabnya juga Yesaya menyatakan: "Seorang anak telah
lahir untuk kita, seorang Putra telah diberikan untuk kita"
(Yes, 9:5a). Anak Allah lahir untuk seluruh umat manusia dan dunia,
bukan untuk sekelompok orang. Bahkan menurut Yesaya di bawah
kuasa-Nya damai dan sejahtera terwujud senantiasa karena kekuasaan
itu ia dasarkan pada keadilan dan kebenaran. Anak yang lahir disebut
Yesus Kristus, yang kelahirannya diperingati setiap kita merayakan
Natal. Allah itulah yang kita panggil Bapa dalam Yesus Kristus,
Allah yang telah datang ke dalam dunia, melawat kita serta
membebaskan kita umat manusia.
Dunia yang dihidupi manusia sekarang ini bukan lagi sebuah dunia
yang ramah dan damai. Dunia telah dipenuhi kekerasan, amuk, dendam,
bom yang menimbulkan ketakutan dan distorsi dalam kehidupan umat
manusia. Sebuah etik global yang digagas Hans Kung sejak 1993 yang
di dalamnya perdamaian, penghargaan terhadap harkat dan martabat
manusia mendapat tempat utama, belum juga mewujud. Di tengah-tengah
ancaman terhadap kemanusiaan, Allah datang melawat manusia.
Allah dari tempat yang tinggi, yang Kudus dan Agung, datang melawat
kita yang sedang bergumul di tengah dunia. Seorang anak telah lahir
untuk kita, seorang Putra telah diberikan untuk kita. Kehadiran
Allah ini adalah kehadiran yang memberdayakan manusia, karena
manusia dalam dirinya sendiri tidak mampu melakukan apa pun. Jika
Allah malawat kita, berarti dia hadir di tengah degup pergumulan
kita, Dia tinggal bersama kita, Dia solider dengan kita.
Lawatan Allah ini harus mendorong kita untuk makin mengungkapkan
solidaritas kita dengan mereka yang lemah dan menderita, dengan
mereka yang tercecer di pinggir-pinggir kehidupan. Pembangunan yang
kita laksanakan, hendaknya juga mencerminkan solidaritas kita dengan
mereka yang miskin dan papa.
Natal sekaligus adalah peneguhan janji Allah, bahwa ia akan
menyelamatkan manusia. Mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam
naungan maut akan diterangi oleh Dia, sehingga kita semua diarahkan
kepada jalan damai sejahtera. Sediakah kita disinari oleh terang
itu, dan terbukakah hati kita untuk menerima lawatan Allah itu?
Perayaan Natal yang di dalamnya Allah memberdayakan kita, melalui
kelahiran anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus, kiranya memacu kita
untuk tampil dengan berani dalam memberdayakan manusia sambil
meninggalkan sikap memperdayakan orang lain.
Natal seharusnya memacu kita untuk mengembangkan sikap inklusif,
tepaselira, tenggang rasa, penuh kerukunan, tanggung jawab, senasib
sepenanggungan, dan membuka diri bagi 'intervensi' Allah. Sehingga
Ia membebaskan jalan-jalan gelap kita menjadi jalan-jalan terang
yang bermakna bagi orang banyak. Dengan pengembangan sikap positif
seperti itu, kekristenan di Indonesia mampu memberi kontribusi
positif bagi bangsa. Sehingga ia dapat berperan sebagai pilar-pilar
penyangga bagi sebuah Indonesia yang utuh, kukuh, teguh cerdas,
adil, dan bersatu dalam masyarakat majemuk Indonesia. (Media
Indonesia, 241203)
|