|
|
|
Natal, Penggenapan Suatu
Penantian dan Harapan (Yesaya 40:27-31)
Oleh Sutarno
Ketakutan dan kekhawatiran yang sangat, dalam menghadapi persoalan
yang menekan kehidupan ini, bisa membuat orang menjadi ragu-ragu,
atau bahkan tidak mempercayai lagi kuasa dan kasih Tuhan. Dalam
keadaan yang demikian, sering kita berkata kepada diri sendiri, dan
mungkin juga kepada orang lain, "Kalau Tuhan memang Maha Kuasa
dan Maha Pengasih, seharusnya Dia mampu menghindarkan diriku dari
keadaan ini! Tetapi, kenapa tidak? Kalau begitu, jangan-jangan Tuhan
sebenarnya memang tidak mampu dan tidak berkuasa mengendalikan serta
mengubah segala sesuatu dalam kehidupan ini, sehingga apa gunanya
aku masih berpegang dan berharap kepada-Nya?"
Kalaupun tidak begitu, artinya tidak meragukan dan kehilangan
kepercayaannya kepada Tuhan itu, ia bisa menjadi begitu kecewa dan
bahkan marah kepada Tuhan, karena merasa bahwa Tuhan telah berlaku
tidak adil kepadanya. "Mengapa Tuhan begitu tak peduli kepadaku
dan membiarkan aku mengalami keadaan yang seperti ini, sedang orang
lain tidak? Apa kekuranganku dan apa salahku?"
Baik keragu-raguan dan ketidakpercayaan lagi terhadap kuasa dan
kasih Tuhan, maupun kekecewaan dan kemarahan karena merasa tidak
dipedulikan dan diperlakukan tidak adil oleh Tuhan, itu sangat
berbahaya bagi kehidupan iman orang percaya. Sebab, kedua hal itu
bisa membuat orang beriman menjadi goyah dan bahkan meninggalkan
imannya. Karena tidak percaya lagi kepada Tuhan, dan karena kecewa
atau bahkan marah kepada-Nya, orang lalu menjadi tidak peduli lagi
kepada Tuhan ataupun hukum-hukum-Nya, dalam upayanya mengatasi dan
memecahkan persoalan yang menekan hidupnya itu. Demikianlah orang
lalu berusaha mencari "tuhan" dan "penyelamat"
yang lain, yang dianggap bisa lebih dipercaya dan diandalkan, dan
menempuh jalannya sendiri.
Keadaan semacam itulah yang dialami oleh umat Tuhan seperti
dinyatakan oleh Nabi Yesaya dalam pemberitaannya. Waktu itu umat
Tuhan sedang mengalami hidup penuh penderitaan di Babil, tanah
pembuangan, sebagai rakyat jajahan yang kalah perang dan kemudian
dideportasi atau dipindahkan dengan paksa ke negeri bangsa yang
mengalahkannya itu.
Di sana mereka benar- benar telah kehilangan segala-galanya. Sebagai
bangsa yang merdeka dan berdaulat, mereka telah kehilangan
eksistensinya, kehormatannya, dan harga dirinya. Di tanah pembuangan
itu mereka diperlakukan sebagai budak, didiskriminasi dan
dihilangkan hak-hak kemanusiaannya, dan harus melayani kehendak
bangsa lain yang menguasainya itu. Padahal, mereka menganggap dan
percaya dirinya merupakan umat pilihan Allah sendiri. Oleh sebab itu
mereka mulai meragukan Tuhan dan bahkan kehilangan kepercayaannya,
sehingga berucap, "Hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan hakku
tidak diperhatikan Allahku." (Yes 40:27). Umat itu merasa telah
ditinggalkan dan diabaikan oleh Tuhan.
* * *
Itulah sebabnya, dalam situasi yang penuh penderitaan dan sangat
tertekan itu, Nabi Yesaya diutus Tuhan untuk menyalakan harapan
dalam hati mereka, untuk menyampaikan berita mengenai janji Allah
untuk menyelamatkan umat-Nya. Melalui pemberitaan Nabi Yesaya itu
Tuhan hendak mengingatkan kembali kepada umat-Nya yang sedang
menderita dan merasa terpuruk itu, bahwa
"Tuhan adalah Allah yang kekal, yang menciptakan langit dan
bumi, yang tidak pernah menjadi lelah dan lesu, dan yang berkenan
memberikan kekuatan kembali kepada yang lelah serta menambah
semangat kepada yang tidak berdaya (Yes. 40:28,29).
"Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan
baru", kata Yesaya, "mereka seumpama rajawali yang naik
terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi
lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah" (Yes. 40:31).
Bagi mereka yang masih mau mempercayai Tuhan dan
menanti-nantikan-Nya, meskipun masih harus berlari dan berjalan
dalam belantara kehidupan yang berat dan penuh gejolak ini, mereka
tidak akan menjadi lesu dan lelah. Mereka akan bisa tetap bertahan,
dan bahkan terus maju. Itulah janji Allah kepada umat-Nya, yang
pasti akan dipenuhi-Nya, asalkan umat-Nya itu masih setia, mau tetap
menanti-nantikan dan mengharap-harapkan pertolongan-Nya.
* * *
Dalam hal ini, perlu kita sadari benar-benar, bahwa kunci
keselamatan itu terletak pada kesetiaan akan pengharapan yang
digantungkan kepada Tuhan saja itu! Atau dengan perkataan lain,
kunci keselamatan itu terletak dalam iman kepada Tuhan yang tak
tergoyahkan, meski menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan.
Selama ada iman, di situ tetap akan ada juga keselamatan. Inilah
rahasia dan keajaiban iman yang harus diyakini dan dipertahankan
oleh orang yang mengaku percaya kepada Allah!
Saat ini kita telah memasuki Masa Raya Natal. Semoga konsentrasi
kita dalam memperingati kelahiran Kristus itu akan sungguh-sungguh
dapat memelihara dan memperbesar nyala iman dan pengharapan kita
kepada-Nya saja, justru di tengah berbagai tantangan, persoalan dan
kesulitan-kesulitan yang membayang-bayangi kita sebagai
pengikut-pengikut Kristus, baik sebagai pribadi-pribadi, maupun
sebagai Gereja.
Marilah kita jadikan Masa Raya Natal ini sesuatu masa penggenapan
dari penantian kita akan peduli Tuhan, di mana kita benar-benar
mengharapkan dan menanti-nantikan campur tangan dan kedatangan Tuhan
dalam menjadikan kita, sehingga meskipun kita harus berlari, kita
tidak akan lesu dan meskipun kita harus berjalan, kita tidak akan
lelah. "Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat
kekuatan baru,"
Selamat Hari Natal, Imanuel, Tuhan Beserta kita! (Suara Pembaruan
241203)
|