|
|
|
Pohon Natal
Oleh RP Borrong
Pohon Natal atau disebut juga pohon terang, masih berdiri kokoh
dalam rumah-rumah ibadah, mal-mal atau super market, kantor-kantor,
di sudut-sudut jalan dan rumah-rumah pribadi. Suasana Natal yang
sebenarnya sudah lewat, masih terasa hangat dan demamnya, antara
lain dalam pohon-pohon Natal yang masih berkelap-kelip di mana-mana
itu.
Ada baiknya pohon Natal yang sudah menjadi sangat terbiasa kita
saksikan setiap bulan Desember bahkan sebagian sudah mulai dipasang
di bulan November dan baru disimpan lagi di bulan Januari. Kita
renungkan arti dan maknanya dengan sedikit menengok kembali ke
belakang, sejak tradisi memasang pohon Natal pada perayaan-perayaan
Natal, dimulai.
Umumnya diyakini bahwa pohon Natal pertama kali muncul di Jerman.
Kebiasaan memasang pohon Natal dimulai oleh Boniface, misionaris
Inggris ke Jerman pada abad ke-8. Diceritakan bahwa Boniface
menggantikan pohon-pohon oak yang dipersembahkan kepada dewa Odin
dengan pohon cemara yang berhiaskan kebesaran bayi Yesus Kristus.
Kemudian Marthen Luther memperkenalkan "lampu" Natal
berupa lilin-lilin pada pohon cemara tersebut.
Konon Pangeran Albert yang menikah dengan Ratu Victoria dari
Inggris, memperkenalkan kebiasaan tersebut ke Inggris dan imigran
Jerman memperkenalkan tradisi tersebut ke Amerika dan meluas ke
seluruh dunia.
Makna
Tradisi pohon Natal ini punya makna bahwa Yesus Kristus yang disebut
dalam Lukas 1: 78 sebagai "Surya Pagi" dan Yohanes 8:12
sebagai "Terang Dunia", kelahirannya datang membawa terang
bagi dunia ini. Menurut tradisi, pilihan merayakan Natal 25
Desember, bersangkut-paut pula dengan Yesus Kristus sebagai Terang
Dunia.
Sebagaimana yang kita ketahui dari sejarah, manusia di Timur Tengah,
khususnya di Mesir, sebelum datangnya agama samawi, sudah memuja
matahari sebagai dewa utama. Penyembahan terhadap dewa matahari di
Mesir dan Persia umumnya dilaksanakan pada musim dingin di bulan
Desember, ketika matahari dalam jarak paling jauh dari katulistiwa.
Di Eropa Selatan maupun Eropa Utara perayaan yang sama dilakukan
dalam masyarakat pra-Kristen, untuk membujuk dewa-dewa matahari,
mengembalikan matahari yang "bersembunyi" selama musim
dingin. Dalam masyarakat Romawi kuno, pesta Saturnalia dikenal
sebagai perayaan untuk menghormati dewa Saturnus, dewa pertanian.
Musim dingin merupakan ancaman dari sang dewa yang kalau terus
menyimpan matahari, akan membuat tumbuhan tak bisa tumbuh lagi di
musim semi.
Di Eropa Utara, pertengahan bulan Desember merupakan masa yang
sangat kritis. Siang hari menjadi semakin pendek. Matahari semakin
melemah dan menjauh. Masyarakat membuat api unggun untuk membuat
dewa musim dingin yang seolah mati mendapat kekuatannya dan
membawanya kembali kepada kehidupan.
Gagasan pokok dalam festival-festival di sekitar bulan Desember
tersebut adalah kembalinya terang setelah bersembunyi begitu lama
selama musim dingin. Itu sebabnya dengan mudah gereja-gereja
bersepakat memilih tanggal 25 Desember sebagai perayaan kelahiran
Yesus Kristus, sang Terang Dunia, yang lahir untuk memberikan
harapan baru bagi kehidupan di dunia. Tahun 440 bapa-bapa gereja
memutuskan bahwa tanggal 25 Desember, yang merupakan tanggal pesta
Solis dan Saturnalia, walaupun sedikit bergeser, karena pesta Solis
dan pesta Saturnalia biasanya dirayakan tanggal 21 Desember.
Di Indonesia dan di seluruh dunia, gereja telah memilih dan
menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal, kelahiran Tuhan
Yesus, sang Terang Dunia. Pilihan tanggal tersebut di Eropa sangat
tepat dan sejalan dengan tradisi masyarakat pra-Kristen, sehingga
dengan mudah mereka melakukan transformasi perayaan tradisi lama itu
dengan isi dan makna kelahiran Yesus Kristus sebagai terang dunia,
sang pemberi kehidupan baru.
Pohon Natal adalah pohon pengharapan akan masa depan yang tak akan
pernah pudar. Tradisi itu telah lama melekat dalam hati setiap
orang, bukan hanya orang-orang Kristen tetapi juga sahabat-sahabat
yang bukan Kristiani. Memang ada juga sisi negatif dari tradisi itu
yaitu pengrusakan lingkungan karena "pembantian" dan
"pengkerdilan" banyak pohon cemara sebagai "pohon
Terang". Bahkan pohon plastik atau kertaspun tak sedikit turut
mengotori lingkungan kita.
Sudah sejak tahun 1992 saya tidak memasang pohon Natal di rumah
karena alasan kepedulian pada lingkungan. Tahun 2003 saya membeli
lagi pohon Natal tiruan karena desakan putri saya yang berusia 4
tahun. Saya merenungkan ulang makna memasang pohon itu di rumah dan
memutuskan untuk membelinya kembali serta memasangnya di rumah.
Pohon Natal itu ternyata membawa suka-cita kepada putri saya. Apakah
saya mengingkari atau mengkhianati komitmen saya? Tidak!
Artifisial
Pohon artifisial tersebut akan kami simpan selama mungkin supaya
dapat "reuse" sebagai salah satu prinsip hidup peduli
lingkungan, sampai putri kami dewasa. Tetapi semakin saya renungkan,
semakin sadar pula saya bahwa tradisi pohon Natal itu sudah menjadi
salah satu napas dari perayaan Natal karena Yesus Kristus sang
Terang Dunia yang dimaknainya.
Di waktu kecil, saya selalu menantikan saat-saat ketika kebahagiaan
Natal dibagi kepada anak-anak dari pohon Natal, berupa ketupat. Di
kampung saya di Kalumpang, Mamuju, Sulawesi Selatan, ada tradisi
memberi "buah" pada pohon Natal di gereja berupa ketupat
yang digantungkan oleh para orangtua (umumnya kaum ibu) sebelum
ibadah Natal dimulai. Setelah ibadah Natal usai, anak-anak akan
mendapatkan ketupat Natal yang dipetik dari pohon Natal itu. Ketupat
itu adalah simbol kehidupan yang dibagikan untuk kebahagiaan
anak-anak.
Di kota-kota besar, pembagian hadiah-hadiah yang diletakkan di pohon
Natal merupakan saat yang paling membahagiakan anak-anak.
Memang pohon Natal adalah pohon pengharapan, pohon yang seharusnya
membawa kebahagiaan bagi anak-anak dan bagi siapa saja. Sebab pohon
Natal merupakan simbol dari Yesus Kristus sendiri, Terang Dunia dan
Sumber Kehidupan Baru dan Abadi. Jutaan orang Kristen dari abad ke
abad telah mendapatkan kegembiraan dan suka-cita hidup melalui pohon
Natal. Ribuan pasangan yang berselisih merayakan saat-saat rujuk di
bawah pohon Natal. Ribuan orang yang mengalami keresahan hidup,
perselisihan, kekecewaan dan macam-macam pergumulan lainnya,
mendapatkan pemulihannya di bawah pohon Natal, simbol dari Sang
Terang Dunia, penyembuh dan pemulih sejati.
Biarlah pohon Natal terus berdiri dan membagi semaraknya seperti
Tuhan Yesus Kristus yang disimbolkannya.
* Penulis adalah Ketua STT Jakarta (Suara Pembaruan 271203).
|