Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

 

Masihkah Terang Bersinar?
Oleh Romo Benny Susetyo, Pr

Wajah kekerasan yang menyelimuti ibu pertiwi, membuat wajahnya semakin muram! Penuh dengan ketidakstabilan membuat bangsa ini terkena stroke yang paling dahysat dan menjadi bangsa yang linglung; bangsa yang tak berdaya menghadapi rimba kekerasan. Seolah-olah akal sehat tidak berfungsi lagi.

Setiap hari kita menjumpai darah anak pertiwi mencucur. Tetesan darah yang terus-menerus mencucur tidak membuat kita sedih. Sepertinya dilihat sebagai kewajaran. Seolah-olah bangsa ini tidak memiliki naluri kemanusiaan ataukah memang naluri itu sudah pudar. Inikah sisi kegelapan wajah ke-ma-nusiaan yang menghiasi anak negeri yang kehilangan induk-nya. Mereka menjadi buta dan membabi-buta tidak mampu lagi membaca tanda zaman. Seolah-olah nilai keagamaan telah pudar menghiasi anak bangsa ini. Mengapa tiba-tiba menjadi buas saling membunuh warga sebangsa?

Kita sama-sama sudah mengetahui, bangsa Indonesia ini dikenal sebagai bangsa yang paling korup di dunia. Namun ternyata itu saja tidak cukup, bangsa ini ternyata masih mencatatkan diri sebagai bangsa yang paling biadab di muka bumi.Kerusuhan, pembakaran, pemerkosaan dan bahkan juga juara penggusuran, pembunuhan menjadi sesuatu yang sangat wajar dan sangat sering kita dengar.

Melihat kenyataan yang memilukan ini kita patut bertanya, masihkah ada terang yang tersisa pada anak negeri ini? Inikah wajah kemanusiaan anak negeri yang diliputi kegelapan dan terpantul dalam perasaan marah, merusak, membantai? Wajah inikah yang membuat orientasi hidup menjadi pudar? Semua serba mendung, serba hitam dan tidak ada lagi sinar kebaikan yang terpantul; yang ada hanya perasaan kecewa dan marah. Hari demi hari yang ada diisi dengan saling menghujat, saling menerkam, dan saling menjatuhkan, tidak ada kepercayaan satu dengan yang lain; mereka bagaikan singa yang siap menerkam satu dengan lain.

Kualitas beriman tidak menjadi perhatian para elite kita, seharusnya mereka itu hidup lurus di hadapan Allah. Bila semua tidak korup, menindas, menyogok, kolusi, berbohong, menyebar fitnah dan berani menegakkan keadilan dan kebenaran; itu baru bisa disebut sebagai elite. Tetapi apa yang terjadi dengan para elite kita? Mereka menjadi penakut dan tidak berani mewartakan kebenaran.

Realitasnya mereka berdiam diri dengan mencari rasa aman lewat segala rekayasa dan permainan kata-kata yang penuh retorika dan kepalsuan. Yesaya mengatakan bahwa ibadat yang berkenan di hati Allah adalah ibadat yang di dalamnya ada solidaritas sosial antarsesama manusia. Dalam Kitab Yesaya tertulis, "Aku menghendaki supaya engkau membagi-bagikan rotimu kepada orang lapar, membawa orang miskin tidak punya rumah, orang telanjang kamu harus memberi pakaian."

Dari tulisan tersebut kita tahu bahwa Yesaya sebenarnya sedang mengoreksi cara beragama kita yang sempit dan hanya memikirkan diri sendiri. Yesaya menegur cara beragama kita yang tidak menjadi cahaya dan terang bagi orang lain. Kehadiran orang beriman seharusnya menjadi berkat bagi sesama bila manusia memiliki prinsip tidak hanyut oleh arus dunia. Ini dikatakan oleh Almarhum Mgr Seogiyopranoto bahwa orang Kristen harus kuat dan tegar dalam prinsip tetapi bila berjumpa dengan sesama hendaknya lemah lembut. Namun yang terjadi sekarang ini, agama kurang memiliki wajah kemanusiaan. Cahaya akan bersinar bila orang beriman tidak sekedar terjebak pada ibadat yang ritual. Inilah panggilan setiap orang beriman.

Arti Iman
Iman tanpa keadilan hanya omong kosong, tidak ada artinya. Iman tanpa sebuah tindakan berarti mati. Beriman tanpa memperjuangkan keadilan dan kebenaran adalah iman yang keropos. Inilah tuntutan yang tidak bisa ditawar. Orang yang beriman, tetapi diam terhadap segala praktik penindasan, penghisapan, penyelewengan dan lain sejenisnya, berarti ia telah melakukan sebuah dosa besar.

Iman yang hanya menjalankan ritual saja, tidak akan membebaskan manusia dari prasangka curiga. Dengan beriman, maka orang harus keluar dari dirinya sendiri dan berani menjadi saksi. Ini dikatakan oleh Uskup Romero, "Berpolitik berarti melayani masyarakat bukan main kuasa. Maka orang Kristen yang berpolitik harus bermoral, tidak perlu bohong, melakukan tindakan korupsi, memakai intimidasi dan kekerasan atau mencari sasaran dengan mengorbankan kepentingan dan kesejahteraan umum, hak dan kebahagiaan orang lain apalagi orang kecil."

Politik harus dilaksanakan dengan tolok-ukur kemanusiaan yang adil. Ini tanggung jawab kita semua sebagai anak negeri yang merindukan era kekerasan diakhiri. Inilah Perayaan Natal sejati, bukan perayaan ritual belaka tetapi perayaan iman di mana sang bayi mungil hadir di tengah dunia dan mengalami duka, duka dari jutaan anak yang menangis karena tidak berdaya menghadapi dunia yang semakin hari semakin kejam, duka dari jutaan anak yang menangis karena tidak dapat lagi bermain; karena tanah lapang sudah disulap menjadi supermarket, bioskop twenty one, lapangan golf dan lain sebagainya yang asing dan angkuh bagi mereka yang sederhana. Jutaan anak lain terpaksa mengungsi karena kerusuhan yang dimainkan oleh para elite politik. Sedangkan lainnya harus membanting tulang siang-malam demi sesuap nasi.

Duka anak-anak kita membuat kita sejenak merenung apa arti Natal yang lebih mendalam, bukan sekedar pesta-pora dan seremonial belaka. Pesan Natal mengajak kita untuk tidak lagi takut menghadapi dunia saat ini yang tidak lagi menunjukkan keramahannya. Dunia saat ini merana karena tidak memiliki kepastian di segala bidang kehidupan.

Ketika wajah hukum dipermainkan, maka wajah keadilan menjadi suram. Dan ketika keadilan diperjualbelikan, maka dia kehilangan wibawanya. Ini wajah dunia kita sekarang di mana setiap orang berlomba bukan untuk makan apa, tetapi untuk makan siapa dan akibatnya orang lantas menjadi lupa diri terhadap kodrat kemanusiannya.

Kondisi seperti ini dialami oleh Maria ketika wajah ketidakadilan, penindasan, manipulasi, kesewenangan hadir di tengah masyarakat zamannya, Allah menghadirkan kabar sukacita. Kabar sukacita bukan diberikan kepada perdana menteri, seorang raja, penguasa, konglomerat tetapi dihadirkan lewat anak dusun yang bernama Maria.

Maria merupakan cermin seorang ibu yang polos, sederhana namun kesederhanaan tersimpan misteri yang luar biasa. Dia mampu membuka cakrawala yang gelap menjadi terang. Ketika orang-orang tak berdaya, kehilangan harapan, Maria hadir di tengah mereka.

Dalam diri perawan Maria warta bahagia pertanda keterasingan manusia yang selama ini dikuasai nafsu liar dendam, perebutan kekuasan, harta, takhta, dan kepentingan yang hanya memikirkan kelompok, golongan kini dibongkar. Malaikat berkata, "Jangan takut sebab engkau beroleh kasih karunia, sesungguhnya engkau akan mengandung, melahirkan sang Mesias yang dinantikan oleh umat manusia."

Jangan Takut
Kata Malaikat, "Jangan takut", ditujukan kepada "mereka" yang sampai saat ini masih memiliki hati terhadap mereka yang miskin, ditindas, tergusur, menjadi korban dari permainan elite politik. Mereka inilah bisa menangkap makna Natal yang sejati. Mereka itulah orang sederhana tidak memilik pamrih, nafsu berkuasa, tidak mengejar kedudukan, harta dan takhta. Mereka ini memiliki hati yang tulus yang tidak takut kehilangan jabatan, kekuasaan. Orang-orang sederhana inilah yang bisa merayakan Natal di tengah-tengah duka bangsa ini.

Hanya mereka yang setia dan bisa menangkap pesan ini. Mereka takut kehilangan sesuatu darinya, dia tak bisa memahami misteri ini. Natal memberi kabar sukacita pada mereka yang sederhana; hidupnya penuh kepolosan dan ketulusan tidak memiliki motif-motif tersembunyi.

Itulah Natal kita bersama. Ketika politik memiliki suara hati, di situkah Natal bersama Anda? Ketika bisnis Anda menggunakan suara hati, di situkah Natal bersama Anda? Ketika kekerasan bukan dijadikan alat untuk merebut kekuasan, apakah Natal bersama Anda? Ketika pemilu tanpa menggunakan kekerasan, apakah Natal bersama Anda? Natal ada dalam setiap orang yang merindukan damai.

* Penulis adalah Rohawinawan dan Budayawan, Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan KWI. (Sinar Harapan 271203)