• PDF

Aku Lupa Aku Luka*

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:30
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1701 kali
Saya mendapat kesempatan melihat sebuah sekolah yang amat canggih bagi ukuran saya. Letaknya di ibu kota Jakarta yang panas dan penuh gubuk miskin serta penuh comberan, tapi juga penuh gedung megah nan indah. Sekolah tadi merupakan tipikal sekolah yang sering saya baca sebagai sekolah modern dan sekolah yang prima. Semua peralatan dan juga sumber daya manusia tersedia dengan sempurna. Teman saya yang saya kenal sangat kreatif menjadi guru di sekolah ini—padahal jujur saja bagi saya dia lebih tepat mengelola sebuah sekolah. Gedungnya tinggi menjulang dengan warna-warna mentereng. Ruanganya ber-ac dan luas. Bersih dan harum. Mirip ruang-ruang sekolah dalam film-film dari luar negeri. Saya tetap terpana walau sering melihat suasana seperti ini di film dan membacanya di majalah.

Iri saya. Apalagi setelah mendengar kalau sekolah itu mengeluarkan dana 6 juta sehari hanya untuk genset penyedia listrik utama di sekolah itu. Hah…kalau di kampung itu bisa menjadi operasional sekolah selama setengah tahun.

Saya melihat anak-anak bergerombol dan bercerita penuh keceriaan. Suasananya sangat nyaman. Mungkin inilah sekolah idaman itu. Terpisah begitu jauh dari kehidupan dan membuat suasana nyaman menjadi sebuah kenikmatan di tengah keterpurukan yang ada di sekitar. Sungguh angin sore itu membuat suasana sangat nyaman.

Saya tentu saja bilang begini karena iri, mengapa banyak sekolah yang selama ini menjadi mitra tempat kerja saya sangat jauh suasananya. Nyaman…masih ada…lah, tapi perasaan kuatir adalah rajanya, karena guru-guru terus berpikir, besok makan apa ya? Dan sebagian murid-muridnya lebih suka pergi ke ladang karena di sana angin sepoi membuat tidur lebih nikmat daripada belajar keras tapi tak tahu nanti mau ke mana. Oh..di sekolah itu kemungkinan siswanya sekolah ke luar negeri dan langsung mendapatkan apa yang mereka cita-citakan amat terbuka lebar. Dari SD sampai SMA mereka berada di suatu lingkungan yang amat terjaga dan tertata dengan baik.

Saya terus teringat kepada anak-anak yang berjuang di tempat lain dan akan segera disalahkan karena “tidak mau mengikuti aturan dan tidak bisa diatur….!” Tapi memangnya semua harus ikut aturan yang lebih tahu dan lebih tertata dengan baik?

Sungguh saya iri dan bingung karena saya merasa bersalah sekali dan merasa tidak bisa berbuat apa-apa.

Tapi sungguh juga ketika saya masuk dan duduk-duduk di sekolahan itu…. Saya lupa kalau saya luka…Nyaman sekali untuk belajar.

 

*Judul diambil dari sebuah lagu milik grup musik bernama Koil
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."