• PDF

Perasaan Saya Yang Subyektif Soal Kemerdekaan: Sebuah Permenungan

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 15 Agustus 2009 09:25
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 2866 kali

Agustus tiba dan hari kemerdekaan akan segera kita peringati. Sudahkah kita merdeka? Pertanyaan ini bagi sementara orang tidak ada artinya sama sekali. Jelas kita sudah merdeka. Tapi bagi sementara orang lagi, pertanyaan ini bisa menimbulkan perdebatan serius. Apa esensi merdeka itu? Begitu kira-kira pertanyaan mereka yang merasa ini pertanyaan serius. Kalau merdeka, mengapa kita masih senang dan menjunjung tinggi hasil karya orang dari luar negeri? Mengapa kita tidak bangga dengan karya anak negeri? Mengapa kita masih diatur-atur oleh pihak asing dalam berbagai hal? Itulah beberapa pertanyaan menohok yang kadang  membuat kuping merah.

Bagi saya, perayaan tujuh belasan makin tahun makin tidak menarik. Waktu kecil saya sebel karena harus ikut segala macam tetek bengek soal upacara, waktu remaja saya sebel karena pusing urus lomba-lomba yang tidak saya mengerti tujuannya dan hubungannya dengan kemerdekaan. Sekarang saya mendapati situasi yang membosankan di kampung karena semua orang saling lempar tanggung jawab untuk berbagai macam kegiatan perayaan kemerdekaan ini. Dari tahun ke tahun kita selalu melihat acara lomba, lomba dan karnaval. Maknanya saya kurang paham.

Dulu ada pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Menghapal nilai-nilai dan semangat 45. Saya kadang merasa merinding pas membaca buku pelajaran sejarah itu, apalagi kalau kemudian melihat film perjuangan. Tapi entah mengapa lambat laun makin tidak terasa perasaan merinding itu. Sejarah hanya hapalan saja. Dan jadi slogan tak bermakna. Agustusan ya milik mereka yang pernah perang saja. Kita menjalani sajalah. Apakah kita ini—eh saya ding—terlena dengan apa yang ada atau memang tidak paham arti kemerdekaan ya?

Saya mendapatkan suatu pelajaran dari seorang bapak mengenai arti kemerdekaan. Konon kabarnya kemerdekaan memang memiliki makna yang amat berbeda di tiap negara. Jepang yang kalah perang katanya memaknai kemerdekaan sebagai upaya untuk dapat berdiri di kakinya sendiri. Karena itu mereka berjuang mengirim generasi-generasi terbaik untuk belajar dan pada akhirnya menjadi salah satu penguasa dunia. Mereka katanya juga menganggap kemerdekaan adalah kebebasan untuk menentukan jati diri. Karena itulah mereka sangat menjunjung tinggi jati diri mereka. Konon kabarnya kata-kata dalam bahasa Jepang dapat dipilah mana yang asli dan mana yang serapan. Dengan begitu mereka menanamkan jati diri dan kebanggaan tersendiri. Kemurnian kebudayaan mereka terjaga. Mereka benar-benar merdeka di atas kaki mereka sendiri dan mempengaruhi dunia.

Orang-orang Eropa konon kabarnya juga mengembangkan makna kemerdekaan yang jelas dan spesifik. Mereka menganggap kemerdekaan adalah keadaan dimana individu bebas menentukan keberadaan dirinya, tapi juga penuh persaudaraan, dan pemenuhan hak serta kewajiban. Mungkin kita bisa melihat bahwa orang-orang Eropa sangat menjunjung tinggi kebebasan individu, kemudian mereka juga bersatu dalam Uni Eropa dan sangat memikirkan sistem sosial yang adil bagi rakyatnya.

Lain lagi orang Amerika, begitu kata bapak tadi, orang Amerika melihat kemerdekaan adalah kebebasan. Kita mendengar mereka senang meneriakkan kebebasan berpendapat, kebebasan pers, kebebasan untuk bermimpi dan sebagainya. Film-film mereka yang amat memperngaruhi generasi kita sangat menjunjung tinggi kebebasan.

Entah benar entah tidak uraian bapak tadi, tapi saya melihat bahwa kemerdekaan perlu tujuan dan makna.

Nah kalau di sekolah: kita dididik apa soal kemerdekaan? Adakah makna-makna di atas muncul? Atau kemerdekaan adalah rutinitas? Atau kemerdekaan adalah kebebasan untuk berbuat sesuka hati? Kita selalu membaca pembukaan Undang-Undang Dasar 45 ketika upacara di sekolah atau di berbagai kesempatan. Adakah kita menemukan arti kemerdekaan kita di sana? Dokumen sangat penting itu sering kita lupakan.

Tujuan merdeka harusnya membuat kita berjuang bersama. Tapi saya masih merasa tujuan merdeka kita adalah bertindak seenak hati kita untuk kepentingan sendiri. Maaf..walau orang bilang kita ramah dan beradab, ada sisi yang belum jelas dalam kemerdekaan kita. Di sekolah anak-anak masih belum merdeka, mereka masih takut sekali dengan guru dan diseragamkan dari banyak sisi. Bagi saya ini contoh yang  sangat jelas bahwa kita dididik untuk tidak merdeka.

Bukankah ini patut kita perjuangkan?

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."