|
Trend Dunia Pendidikan Modern Kita
Oleh: Wiji Suprayogi
Menurut
kamus yang saya baca, kata trend berarti: 1. Kecenderungan 2.
Jurusan, arah gejala, jalan.
Jadi kalau kata trend di-gandengkan
dengan kata pendidikan modern, saya mengartikannya sebagai
kecenderungan yang terjadi dalam dunia pendidikan modern dan hal itu
menentukan arah laju dinamika dalam dunia pendidikan modern
tersebut. Saya katakan modern karena bagi saya kita sebenarnya juga
punya pola-pola pendidikan tradisional yang sangat beragam.
Pendidikan yang dilakukan orang tua di Papua akan sangat berbeda
dengan orang tua di Jawa, dan kita memiliki suku yang sangat
beragam, bukankah hal ini menunjukkan betapa beranekanya pendidikan
yang dilakukan oleh orang tua di Indonesia?
Lalu
dinamika seperti apa yang terjadi dalam dunia pendidikan kita secara
luas? Kejadian apa saja yang sedang terjadi di sana? Pertanyaan yang
sukar dijawab karena musti melibatkan pengamatan yang cermat dan
mustinya juga penelitian yang cermat. Oleh karena itu dalam tulisan
ini saya hanya berusaha memaparkan apa yang dinamakan trend tersebut
berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh dari endapan sejarah,
bacaaan, dan pengalaman yang saya peroleh di lapangan. Mungkin
tulisan ini bisa dikategorikan sebagai sebuah permenungan yang bisa
menjadi persiapan untuk suatu pemikiran atau tulisan yang bersifat
akademik nantinya.
Biacara
kecenderungan maka di otak saya segera saja terbayang perubahan
besar-besaran yang sedang terjadi di dunia yang kita diami ini. Kata
globalisasi mewakili dunia yang sedang berubah ini. Orang-orang
melihat berbagai kemungkinan baru, cara hidup baru, pemikiran baru,
pasar baru, dan semuanya merubah tatanan yang sudah lama ada. Kita
yang sudah terbiasa dengan keluarga Jawa yang mangan
ora mangan kumpul, tiba-tiba berhadapan dengan keluarga bahagia
dengan dua anak yang ceria yang selalu kita lihat dalam iklan-iklan
di televisi. Mau tidak mau tampilan itu merubah kecenderungan yang
ada dalam masyarakat kita. Orang tidak lagi berkecenderungan
memiliki anak banyak dan berpikir banyak anak banyak rejeki. Tentu
saja perubahan ini mengubah nilai-nilai yang selama ini kita anut.
Ekspansi
pasar yang melibatkan modal dan juga cara pandang baru terhadap
modal merubah cara orang bekerja dan mempertahankan hidup. Dulu
orang masih bisa istirahat dan bermalasan setelah menanam padi di
sawah, ngopi dulu ke warung, sekarang sikap itu dianggap melalaikan
kesempatan dan membuang waktu yang katanya sangat berharga. Pasar
tradisional yang biasanya rame pada hari-hari tertentu jadi kuno dan
diganti dengan pasar modern yang buka 24 jam. Semua diukur dengan
pencapaian dan angka-angka yang konkret. Waktu adalah uang dan
segala segi bisa dipasarkan untuk mengeruk modal sebesar-besarnya.
Kecenderungan ini merubah cara kerja dan juga skill yang dibutuhkan
oleh para tenaga kerjanya.
Perubahan
ini mau tidak mau mengubah cara hidup masyarakat dan cara masyarakat
mengatur berbagai birokrasi dalam kehidupan ini. Pengelolaan waktu,
ruang, gaya, pakaian, cara hidup, pendidikan, pemerintahan, cara
mencari uang, semua ikut berubah. Hanya saja sayangnya tidak semua
orang menyadari dan menerima hal
ini. Maka terjadilah perbenturan budaya karena kebiasaaan lama masih
dirindukan dan dihayati tapi keadaan memaksa melaksanakan kebiasaan
baru yang ada di depan mata.
Pendidikan
sebagai salah satu lembaga—atau apapun namanya—yang ada dalam
masyarakat tentu saja merasakan hal tersebut. Perubahan menuntut
sistem dan cara yang berlaku dalam dunia pendidikan harus ikut
berubah. Apalagi pendidikan dipercaya sebagai lembaga yang
menyiapkan individu agar siap menghadapi tatantangan jaman. Dari
sini saya teringat sekilas sejarah pendidikan modern kita. Dulu
setahu saya Belanda merancang politik balas budi dengan mengupayakan
pendidikan modern yang memadai bagi seluruh rakyat Hindia Belanda.
Meskipun penuh muatan politis dan pembatasan di sana-sini,
pendidikan modern yang digagas nampaknya menghasilkan tokoh-tokoh
cerdas yang akhirnya menjadi founding
father kita. Dari sanalah juga muncul para tokoh pendidikan
seperti Ki Hajar Dewantara yang dengan berbagai idealismenya
mendirikan sekolah bagi rakyat kebanyakan.
Pendidikan
yang ada pada saat itu penuh dengan idealisme untuk memperbaiki
bangsa dan mengajak bangsa ini menyamai peradaban di belahan dunia
lain. Maka pendidikan dijalankan dengan semangat idealisme untuk
membentuk nilai-nilai kejujuran, kreativitas, kebenaran, dedikasi,
intelektualisme, etika, dan tanggung jawab bersama untuk menciptakan
kemakmuran bangsa. Harapannya dengan pendidikan yang baik maka
bangsa ini akan lebih beradab dan menjadi bangsa yang makmur.
Melalui jalan berliku dan kadang berdarah-darah maka berbagai
idealisme tersebut mulai tertanam dalam masyarakat kita. Buktinya
jelas, kita bisa bersatu dalam wadah Indonesia ini karena kita
terbentuk dalam pola yang diajarkan lewat pendidikan yang dijalankan
oleh para pendahulu kita.
Setelah
kemerdekaan maka pendidikan menjadi bagian tak terpisahkan dari
pemerintah. Dia masuk ke dalam undang-undang dasar menjadi hak bagi
semua masyarakat Indonesia. Maka mulailah pemerintah mengatur bahwa
pendidikan diwajibkan dan diharuskan. Tentu saja sistem pendidikan
modern yang kemudian diterapkan ke dalam sistem pendidikan di
Indonesia ini. Pendidikan yang bersifat lokal sedikit banyak
terabaikan dan bahkan mungkin tidak dilirik. Di masa Orde Baru
dimana militerisme merupakan kekuatan yang menentukan maka
pendidikan yang kita jalankan menjadi lebih seragam dan
menghegemoni. Maka jadilah keluarga yang ideal dalam pendidikan kita
hanyalah keluarga seperti keluarga si Budi dalam bacaan kita di masa
kecil. Nilai keluarga yang baik adalah keluarga dengan anak sedikit.
Begitulah pendidikan memiliki kecenderungan menjadikan masyarakat
seragam.
Di
sisi lain dunia yang mulai berubah juga memaksa berbagai elemen
dalam pendidikan berubah. Nilai-nilai idealis yang dulu berusaha
ditanamkan mulai bergeser kepada nilai-nilai pasar dan kebutuhan
sesaat. Orang bersekolah hanya untuk mengejar ijasah dengan tujuan
supaya dapat bekerja. Slogan ”mengupayakan pendidikan yang sesuai
kebutuhan pasar”, membuat sekolah berupaya dengan keras
menyesuaikan dengan berbagai kebutuhan jaman. Sekolah yang
memberikan nilai-nilai ideal berbenturan dengan kebutuhan pasar dan
tenaga kerja yang makin besar. Maka sekolah yang merupakan instansi
pelaksana pendidikan memiliki kecenderungan hanya menjadi produsen
tenaga kerja yang sesuai pasar. Kecenderungan ini dapat dilihat
lewat maraknya berbagai kursus dan juga bimbingan tes yang
memberikan cara-cara praktis dan instan untuk mencapai sukses. Juga
hilangnya berbagai pelajaran budi pekerti dari kurikulum pendidikan
kita. Orde baru sebagai mesin penggerak yang otoriter membuat
situasi menjadi lebih runyam dan tidak kreatif dengan berbagai
pemaksaan ideologi dalam pendidikan kita. Maka pendidikan menjadi
sesuatu yang bersifat birokratis saja. Guru memiliki kecenderungan
untuk mengacu kepada apa yang diberikan pemerintah saja tanpa
kreatifitas untuk mengolahnya.
Dalam
situasi tadi berbagai korupsi, kolusi, dan nepotisme menggelayut
begitu kuat dalam dunia pendidikan kita. Soalnya birokrasi yang ada
memuluskan berbagai praktek tersebut. Payung pendidikan yang
berusaha idealis seolah menutupi berbagai kebusukan yang terjadi
dalam dunia pendidikan kita.
Di
dunia luar perubahan gaya hidup lewat globalisasi menyerang kembali
dunia pendidikan modern kita. Berbagai kecenderungan baru yang
membuat pendidikan menjadi industri memaksa sistem yang sudah
tertata kacau itu mengikuti gerak kepentingan ekonomi yang begitu
kuat. Maka berbagai sekolah yang bersifat international, unggul,
ataupun berprestasi muncul dengan dasar ekonomi yang kuat dan
memaksa sekolah yang dikatakan kuno gulung tikar. Tak heran banyak
sekolah pinggiran sekarang menjadi tersingkir karena tidak menarik
lagi dan tidak punya uang untuk mengelolanya menjadi lebih maju dan
sesuai jaman. Di sisi lain mereka terbelit birokrasi yang
menumpulkan kreativitas mereka. Sekolah bagi kaum miskin menjadi
makin sulit dan mahal.
Berbagai
keresahan dalam dunia pendidikan modern kita sekarang ini menurut
saya merupakan akumulasi berbagai kecenderungan di atas. Ujian
Nasional yang menuai kontroversi merupakan kelanjutan kecenderunagn
birokratis dan hegemoni pemerintah. Kekerasan dalam pendidikan
merupakan bagian dari kecenderungan militeristik Orde Baru. Berbagai
muatan baru dalam pendidikan kita merupakan kelanjutan dari
kecenderungan memenuhi kebutuhan pasar. Diluncurkannya Jaringan
Pendidikan Nasional melalui internet bagi saya hanya sebatas
pemenuhan kebutuhan pasar tanpa pola pikir yang jelas. Bagaimana mau
jalan kalau komputer di sekolah masih dianggap barang keramat dan
lebih banyak dianggurkan? Paling tidak itulah yang saya jumpai di
lapangan.
Maka
bagi saya trend pendidikan kita adalah trend mengikuti pasar tapi
melupakan makna pendidikan yang sesungguhnya dengan berbagai
idealisme di belakangnya. Benar kemajuan dan berbagai hal di atas
ikut memeratakan kesempatan belajar. Tapi jika tidak diikuti pola
pikir yang jelas maka akan sia-sia. Belum lagi hilangnya berbagai
kemampuan lokal dalam ranah pendidikan kita membuat kecenderungan
seragam masih menguat. Padahal bukan tidak mungkin berbagai
kemampuan lokal itu sangat berarti bagi kehidupan anak didik kita
dan masyarakat kita secara luas.
Merupakan
tugas bagi kita semua untuk ikut memikirkan bagaimana menggabungkan
idealisme, lokalitas, dan trend pasar global dalam mengelola
pendidikan kita. Selamat Tahun Baru. Selamat Memulai Pendidikan yang
lebih baru!
|