|
Beda Kota Beda Desa?—Sebuah Refleksi
Oleh: Wiji Suprayogi
Saya
sedang merasa bahwa saya menjadi orang aneh. Tetangga-tetangga
selalu bertanya mengapa kami pergi begitu pagi dan pulang begitu
sore ketika bekerja. Jam kerja kami—saya dan istri—serta jarak
tempat kerja membuat kami selalu tiba sore sekali. Sementara bagi
penduduk di kampung kami, bekerja dimulai sekitar jam 8 pagi,
kemudian jam 10 istirahat, makan-makan, kemudian jam 12 sampai 13
selesai, istirahat lagi dan jam 16 kerja lagi. Ya, sebagian besar
penduduk kampung di mana saya tinggal adalah petani dan tetangga di
sekitar rumah saya petani. Rumah saya ada di dekat sawah dan kadang
teras rumah kami dijadikan tempat istirahat. Maka wajar saja mereka
selalu bertanya di mana kami siang-siang kok tidak pernah kelihatan.
@
Lain lagi pengalaman ketika saya menjadi freelancer
(mudah-mudahan nulisnya bener..he..he..) di pinggiran kota Jogja. Waktu itu kami masih kost dan istri saya juga
belum memiliki
pekerjaan tetap. Kami sering merasa asing karena pagi-pagi hanya
kami berdua yang berada di rumah—eh kamar kost ding. Tetangga
pergi kerja dan jadilah kami selalu ditanya oleh Ibu kost, “Kok
tidak kerja Mas?” Menjelaskan kalau pekerjaan saya fleksibel dalam
hal waktu bukan barang mudah juga.
@
Di beberapa sekolah yang berada di pedesaan saya
menjumpai kalau jam kerja pedesaan seperti di kampung saya yang
digunakan sebagai patokan dalam kegiatan belajar-mengajar. Kadang
jam sepuluh anak-anak sudah diajak pulang karena ada alasan kegiatan
desa. Atau sekolah libur karena ada kenduri di suatu kampung. Jadi
anak-anak tidak dibiasakan berpikir bahwa nantinya mereka juga akan
menghadapi persaingan di perkotaan ataupun kebiasaan yang lain dari
daerah asal anak-anak tersebut. Tentu saja hal itu tidak salah. Toh
dalam belajar berbagai kebiasaan tersebut perlu dikenalkan kepada
anak sebagai sebuah alternatif. Maksud saya, keputusan menggunakan
waktu seperti di kampung bagi anak-anak tidak masalah asal mereka
bisa belajar dari berbagai hal tersebut. Tapi belajar tata cara dan
logika daerah lain yang mungkin akan menjadi bagian dari kehidupan
anak-anak adalah suatu hal yang sangat diperlukan juga. Bagaimana
mereka akan bisa mengerti kinerja pabrik jika dalam seting otak
mereka selalu terpatri, jam 10 harus istirahat? Misal saja ini,
karena ada juga pabrik yang istirahat di jam 10.
@
Kadang
pendidik lupa bahwa kita belajar bukan hanya untuk melanggengkan
hal-hal yang sudah biasa kita lakukan tapi juga menerima bahwa ada
cara dan alternatif lain yang bisa dijajagi dan dijalankan. Kalau
anak-anak mengerti bagaimana mengantisipasi berbagai perubahan
karena daya kritis mereka terasah, bukankah ini pelajaran lifeskill
yang amat diperlukan? Sehingga mereka menjadi orang yang siap
menghadapi dunia yang selalu berubah. Tapi seringkali karena alasan
tradisi maka perubahan menjadi sulit dilakukan dan meng-asing-kan
banyak orang.
|