MENJADI GEREJA PEMBUAT MURID (BAGIAN 5)

grejabuatmuridMENGATASI KEMARAHAN

Ada tiga prinsip dasar iman yang, jika dipahami, dapat membuat kita tetap berada di jalan yang benar dan mencegah kita bertindak gegabah. Pertama, iman tergantung pada obyeknya… Masalahnya bukan soal apakah orang percaya atau tidak percaya. Masalah sebenarnya terletak pada apa atau siapakah yang dipercayai. Orang tidak dapat memiliki iman kepada iman!

Kedua, seberapa besar iman kita tergantung pada seberapa baik kita mengenal obyek iman kita.. Jika kita hanya sedikit mengenal Allah dan firman-Nya, kita hanya dapat memiliki iman yang kecil. Memercayai bahwa sesuatu itu benar tidak membuat hal itu menjadi benar. Yesus adalah Kebenaran, dan karena itu kita percaya kepada-Nya; dan Dia tetap merupakan Kebenaran sekalipun kita tidak percaya pada-Nya.

Ketiga, iman adaah sebuah kata tindakan.. Orang tidak selalu hidup sesuai dengan yang mereka akui/nyatakan, tetapi mereka hidup sesuai dengan yang mereka percayai.. Jika yang kita akui kita percayai tidak memengaruhi perilaku dan perkataan kita, maka iman kita hanya preferensi yang akan sirna jika ada tekanan. Iman yang alkitabiah bukanlah ungkapan persetujuan mental terhadap Allah. Iman adalah perwujudan kebergantungan kepada Allah.

  • Tujuan dan Keinginan

Anda tentu tidak percaya kalau Bapa surgawi kita yang pengasih ingin kita merasa tertolak, tidak aman, tidak berharga, atau melihat kita gagal dalam upaya kita melakukan “pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya… supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10)! Pemahaman kita akan hal ini dan cara kita merelisasikannya dalam pengalaman hidup kita sangatlah penting.

Tujuan yang diberikan Allah untuk hidup kita tidak ada yang mustahil, tidak pasti, atau terhalang. Bahkan dunia sekuler pun tahu bahwa otoritas para pemimpin akan hancur jika mereka memberikan perintah yang tak dapat dilakukan. Jadi, jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, hal itu tentu bisa dilakukan! “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Lukas 1:37), dan “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). “Segala perkara,” namun, harus sesuai dengan kehendak Allah.

Tujuan yang baik adalah segala orientsi spesifik yang mencerminkan tujuan Allah untuk hidup kita, dan hal itu tidak tergantung pada orang-orang atau situasi-situasi yang berada di luar hal atau kemampuan kita untuk mengendalikan… Tidak ada seorangpun atau sesuatu apa pun yang bisa menghalangi kita untuk menjadi orang yang Allah rancangkan untuk kita, dan itu adalah tujuan Allah untuk hidup kita. Situasi-situasi tidak pernah bisa menentukan siapa kita, orang lain pun tidak bisa kita biarkan memiliki hak semacam itui pada diri kita. Hanya Allah yang memiliki hak untuk menentukan siapa kita.

Keinginan yang baik adalah segala orientasi spesifik yang tergantung pada kerja sama orang lain, keberhasilan peristiwa, atau situasi-situasi baik yang kita tidak punya hal atau kemampuan untuk mengendalikannya. Kita tidak bisa mendasarkan identitas, keberhasilan, atau rasa berharga kita pada keinginan-keinginan kita, betapa pun baiknya keinginan kita itu, karena kita tidak dapat mengendalikan pencapaiannya.

Kita tidak boleh mendasarkan identitas dan rasa berharga kita pada pencapaian keinginan-keinginan itu. Kita tak pernah boleh berusaha mengendalikan dan memanipulasi orang untuk memenuhi keinginan kita, atau menjadi marah, cemas, dan tertekan jika keinginan-keinginan kita tidak terpenuhi—meskipun kita mungkin merasa kecewa.

Kemarahan adalah perasaan yang diberikan Allah untuk menunjukkan ada yang salah.. Ketika kemarahan muncul, pisahkanlah mana yang tujuan dan mana yang keinginan, di pikiran Anda… Anda memiliki kemampuan dari Allah untuk memilih apa yang Anda pikirkan dan percayai. Anda bukan mengendalikan kemarahan Anda; Anda mengendalikan pikiran-pikiran Anda—dengan menundukkannya untuk taat kepada Kristus. Jika kemarahan itu benar, Allah dapat mengarahkan Anda untuk berdoa bagi seseorang atau mendorong Anda untuk memperbaiki kesalahan… Kita dapat mengelola emosi-emosi kita saat ini dengan memantau apa yang kita pikirkan dan percayai, tetapi bagaimana dengan beban emosi yang kita bawa dari masa lalu?

 

Disadur dari: Menjadi Gereja Pembuat Murid
Penulis: Neil T. Anderson
Penerbit: Yayasan Gloria-Katalis
Info Buku: Menjadi Gereja Pembuat Murid (untuk pembelian sistem membership), Menjadi Gereja Pembuat Murid (untuk pembelian umum)