|
Paskah; Budaya dan Sinkritisme
Oleh: Hotman Jonathan Lumbangaol
*)
Paskah
berkaitan dengan pemberontakan Kaisar Tiberus. Yang dipimpin Lucius
Aelius Sejanus. Pemberontakan Sejanus diyakini terjadi sebelum
peristiwa penyaliban terjadi. Dan diketahui bahwa pemberontakan
tersebut terjadi pada tahun 31SM. Dengan melihat keterkaitan
tersebut dapat disimpulkan bahwa penyaliban di bukit Golgota terjadi
pada tanggal 14 Nisan. Dalam penanggalan agama Yahudi, bulan Nisan
dianggap juga sebagai bulan Tahun Baru Raja. Nisan terjadi antara
bulan Maret dan April di mana waktu matahari berada di titik Vernal
Equinok. Dan inilah awal perayaan Roti Tidak Beragi.
Di
dalam Annotated RSV, ada satu istilah umum, SHD 1310 bashal yang
berarti Hari Suci pertama Roti Tidak Beragi.
Hal ini menjadi budaya Israel. Dalam Keluaran
12:8-12, Paskah haruslah disediakan korban (daging), sementara Keluaran
12:13-18 darah menjadi tanda bagi rumah-rumah, jika tidak ada darah tulah
kemusnahan akan menimpa. Terjadi zaman Musa, di mana anak sulung
orang Mesir meninggal karena tidak ada lambang darah di depan pintu
mereka.
Penyaliban Yesus sebagai korban Paskah dirayakan
sejak tahun 113M. Saat
itu paskah menjadi perayaan umat Kristen atas penebusan
Kristus lewat jalan salib (Via Dolorosa). Peristiwa
itu ditetapkan sejak penyembelihan anak domba Paskah itu. Yesus
menjadi Korban untuk Keselamatan, dalam bahasa Ibrani disebut Zerah
Syelamin. Kata Zebah berarti yang disembelih, sedangkan Syelamin
kata jamak yang berarti juga Syalom. Di masa reformasi raja Yosia
tahun 622SM semua korban harus disembelih di Yerusalem. Setelah itu
dilanjutan jamauan suci. Perjamuan Suci merupakan satu ritual tetap
di Yudea. Dalam Perjanjian Baru dijelaskan dalam ritual
mazhab-mazhab agama Yahudi abad
pertama, seperti dicerminkan oleh Essene. Jamuan Essene jamuan
mengucap berkat ke atas roti dan anggur itu. Essene tidak lepas dari
korban-korban yang telah dibuat di Bait-bait Suci Yahudi. Hal ini
dibuktikan para arkeologi dari Surat-surat Aramaik yang telah
diterjemahkan oleh H.L. Ginsberg dari karya J.B. Pritchard The
Ancient Near East (Vol. 1, hal 278).
Sinkritisme
Paskah
Perayaan Easter sering dianalogikan sebagai paskah. Zaman
Herodes, dua rasul dipenjarakan;
Yakobus dan Petrus persis saat perayaan Roti Tidak Beragi. Dua rasul
ini dituduh melawan hirarki Herodes, karena tidak mau merayakan
Easter. Tetapi, jika membaca kamu Indonesia hal ini bisa menyesatkan, Paskah dan Easter diterjemahkan sama.
Padahal, dua perayaan yang berbeda maksud dan tujuannya. Ini jelas
sinkritisme, sebab, perayaan Easter (atau Ishtar) adalah perayaan
kebangkitan seorang dewa bernama Tamus yang ditandai dengan perayaan
menghias telur dan bersimbol kelinci.
Demikian pula Paskah selalu diidentikkan dengan
perayaan Passover pada Musim Semi. Padahal, Passover merupakan
festival tahunan kaum Yahudi yang dirayakan selama delapan hari
untuk memperingati hari Exodus kaum Israel dari Mesir. Perayaan
Passover, al-Masih untuk terakhir kalinya memasuki kota Jerussalem pada hari Ahad. Penanggalan Yahudi, Passover diperingati
dari tanggal 14-22 pada bulan Nisan yang merupakan bulan ke-7 dalam
Penanggalan Lunisolar Yahudi. Berkaitan dua fenomena astronomi,
bulan Purnama dan titik Musim Semi Matahari. Hal
inilah yang mengandung Sinkritisme, kalau tidak tergolong ritual
okultisme
Ada
yang menyangsikan ketidakakuratan Penanggalan Julian yang kemudian
direformasi oleh Paus Gregorius XIII menjadi Penanggalan Gregorian
(red: Paskah dan Reformasi Penanggalan Surya, Kompas, 28 Maret
2002). Sinkritisme
juga terjadi pada perayaan Quartodeciman dari segi sejarah,
merupakan Perjamuan Suci itu patut dibuat (rujuk Asal-usul Krismas
dan Easter (235) dan Pertikaian-pertikaian Quartodeciman (277).
Kekeliruan ini adalah didasari teks-teks dalam Injil-injil Sinoptik.
Ada
juga yang menyebut kata Paskah berasal dari Pesach (Passover).
Sedang Easter yang merupakan kata lain dari Paskah dipercaya berasal
dari kata Eostre yang merupakan nama Dewi Musim-Semi dan Kesuburan.
Perayaan Eostre yang dirayakan tepat pada hari di mana matahari
berada di titik musim semi (Vernal Equinox) mempunyai maskot kelinci
dan telur berwarna. Kelinci menggambarkan kesuburan dan telur
berwarna menggambarkan cahaya matahari yang kembali menyinari bumi.
Namun, jika perayaan paskah selalu diindentikan telur paskah itu
jelas sinkritisme. Hal ini merupakan satu kekejian. Perayaan Paskah
dan Easter (atau Ishtar) adalah dua perayaan berbeda.
*)
Penulis adalah seorang peminat sejarah gereja, lulus dari Sekolah
Tinggi Teologia Doulos (STTD), Jakarta. Saat ini wartawan di majalah budaya Batak, tinggal di Bekasi.
|