|
|
|
LAI, 49
Tahun Mengukir Karya
Oleh Weinata Sairin
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) didirikan tanggal 9 Februari 1954
atas prakarsa beberapa tokoh gereja dan masyarakat, yaitu Dr TSG
Mulia, Ds MK Tjakraatmadja. Ds Pouw Ie Gwan, Dsi PD Latuihamallo, Ds
R. Saptojo Judokusumo, Willem AEZ Makaliwe, E. Katoppo, Mr Giok Pwee
Khouw, Ny Tjitjih Leimena.
Tokoh-tokoh itu yang merupakan representasi dari berbagai gereja
menandatangani akte pendirian Yayasan LAI sebagai tanda kelahiran
LAI tanggal 9 Februari 1954. Itu tidak berarti prosesnya baru
terjadi pada tahun 1954. Fari penelusuran historis, upaya untuk
mendirikan LAI telah dimulai sejak tahun 1951.
Dapat dikatakan, adanya cabang British and Foreign Society yang
bekerja di Indonesia sejak tahun 1814, pekerjaan Lembaga Alkitab
Indonesia bahkan sudah dimulai. Sebagaimana dicatat dalam sejarah,
pelayanan lembaga tersebut tahun 1916 diteruskan oleh Lembaga
Alkitab Belanda, yaitu Oost Indische Bijbel Genootschap.
Dengan berdirinya LAI, 9 Februari 1954, pelayanan di bidang
pengadaan Alkitab bagi umat Kristen di Indonesia memasuki era baru.
Dengan demikian, ada lembaga yang secara khusus bertangung jawab
dalam hal penerjemahan, penerbitan, dan penyebaran Alkitab. Kondisi
ini makin diperkuat dengan diterimanya LAI sebagai anggota penuh
United Bible Societies (UBS), organisasi Lembaga Alkitab
Internasional pada September 1954.
Ciri yang menonjol dari pelayanan LAI adalah bahwa lembaga ini
melayani semua umat Kristen Indonesia, yaitu umat Protestan dan
Katolik, tanpa memandang aliran denominasi gereja. Alkitab yang
diproduksi LAI memiliki "keabsahan'' untuk dipergunakan di
semua lingkungan serta aliran gereja tersebut.
Dari segi penerjemahan, LAI berpegang teguh pada rumusan Anggaran
Dasarnya bahwa Alkitab dan bagian-bagiannya diterjemahkan dalam
berbagai bahasa dengan seefektif mungkin dan dalam penerbitan yang
tidak mengandung catatan-catatan doktrinal.
Dalam rangka pelaksanaan program pelayanan yang terarah bagi seluruh
warga gereja dan masyarakat luas. LAI mengembangkan kerja sama
dengan lembaga-lembaga oikoumenis di arah nasional, seperti
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Konferensi Waligereja
Indonesia, Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia,
Persekutuan Injili Indonesia, Bala Keselamatan: Gereja Masehi Advent
Hari Ketujuh, Persekutuan Baptis Indonesia, juga dengan instansi
Pemerintah yang terkait.
Peranan lembaga-lembaga oikoumenis itu tampak antara lain dalam
kehadiran utusan mereka di kepengurusan yayasan serta
perangkat-perangkat keorganisasian LAI lainnya. Pelayanan LAI
berdimensi oikoumenis, dalam arti LAI melayani seluruh umat
Kristiani tanpa membedakan latarbelakang gereja.
Misioner dalam arti bahwa LAI menerjemahkan, menerbitkan, serta
menyebarkan Kitab Suci yang di dalamnya berisi ajaran Kristiani
untuk memandu umat dalam mengkomunikasikan berita kesukaan secara
luas. Ciri pelayanan yang oikoumenis-misioner ini menjadi ciri unik
dan spesifik dari LAI. Di sini pula letak kekuatan peranan LAI untuk
tampil memainkan peran sebagai wahana perwujudan keesaan gereja di
Indonesia.
Arah Program
Program pelayanan LAI dalam kurun waktu 1989-2003 telah
dirumuskan dalam Garis-Garis Besar Haluan Program (GBHP). GBHP itu
menegaskan wawasan pelayanan LAI bertitik tolak dari pemahaman bahwa
wilayah Indonesia merupakan satu wilayah pelayanan, bahkan seluruh
dunia merupakan satu wilayah pelayanan bersama dan Persekutuan
Lembaga Alkitab Sedunia.
Wawasan itu bertumpu pada sikap untuk menyebarluaskan Alkitab yang
dalam berbagai bentuk, model, dan cara, sebagai konkretisasi tugas
pokok LAI: menerjemahkan, memproduksi, menyebarluaskan, dan
mengusahakan agar setiap orang menggunakan Alkitab.
Dalam konteks pemahaman itu, fungsi LAI tidak hanya terbatas sebagai
badan penerbit, tapi sebuah lembaga yang misioner dan berdimensi
evangelistik-nondenominasional. Pemahaman diri seperti itu inheren
dengan tugas panggilan LAI, yaitu memberitakan Injil kepada semua
makhluk (Markus 16:15); menampakkan keesaan gereja sebagai tubuh
Kristus dengan rupa-rupa karunia, tetapi satu roh (I Korintus
12:14); melayani dalam kasih (Markus 5:45, Lukas 4:18, 10: 25-37.
Yohanes 15:16).
Dalam melaksanakan panggilannya, LAI harus bersikap waspada,
kreatif, kritis, partisipatif, dan inovatif terhadap
tantangan-tantangan pembangunan yang dihadapi bangsa Indonesia di
satu pihak, dan tantangan-tantangan yang dihadapi gereja, baik
nasional maupun mondial di pihak lain.
Tugas Strategis
Tritugas LAI yang amat penting dan strategis dalam konteks
kehidupan gereja-gereja di Indonesia adalah menerjemahkan,
menerbitkan, dan menyebarkan Alkitab. Tritugas ini dirumuskan dengan
amat jelas dalam Anggaran Dasar LAI.
Sebab itu, tugas tersebut tidak bisa diserahkan kepada
lembaga-lembaga yang lain apapun alasannya. Penerjemahan itu menjadi
hal yang amat penting dalam konteks kemajemukan bahasa-bahasa di
dunia, sebab itu memiliki 3 landasan utama.
Pertama, dasar penerjemahan Alkitab yang pertama dan terutama adalah
penerjemahan Allah menjadi manusia yang telah memberi satu teladan
sebagaimana Sabda telah menjadi manusia dan tinggal di antara
manusia (Yoh 1:14). Sang Sabda telah datang dan menyatakan diri
dalam keadaan manusia secara total dan masuk dalam situasi manusia
seutuhnya, yaitu dalam bahasa dan kebudayaan orang-orang yang
dikunjungi dan dilayani-Nya (lihat juga Flp 2:7).
Jadi komunikasi keselamatan Allah kepada manusia, bukanlah dalam
bahasa surgawi atau bahasa malaikat, tetapi dengan bahasa dan
kebudayaan manusia tatkala sang Sabda tinggal bertemu, menyapa,
menegur, mengenal, melayani, serta menyelamatkan.
Kedua, pada Hari Pentakosta yang pertama (Kis 2:1-13) telah
digariskan pola utama bagaimana kabar keselamatan dari Allah
disampaikan dalam berbagai bahasa dan budaya.
Kehadiran kuasa Allah memuat pesan yang dinyatakan melalui kemampuan
berbicara dalam bahasa-bahasa lain. Dengan kata lain, kabar baik
dari Allah diberitakan kepada semua orang sesuai dengan bahasa yang
mereka pakai ditempat asal masing-masing.
Hal ini sangat menarik karena semua bahasa yang dipakai oleh
suku-suku dan bangsa-bangsa di dunia purba saat itu terwakili!
Itulah sebabnya, kabar kesukaan harus disampaikan kepada semua
bangsa dan dalam berbagai bahasa.
Ketiga, berhubungan dengan janji dalam Alkitab yang memberikan
pengharapan bahwa kelak setiap orang akan memuji dan memuliakan
Tuhan Allah dalam bahasanya masing-masing (Rm. 14:1 I ).
Di Indonesia penerjemahan Alkitab memiliki akar sejarah yang panjang
karena Injil Matius yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh
Albert Crornelisz Ruyl (1629) merupakan pertama kalinya suatu bagian
Alkitab diterjemahkan ke dalam satu bahasa yang bukan bahasa Eropa.
Peristiwa bersejarah ini dicatat oleh Lembaga Alkitab Inggris dan
Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia sebagai berikut:
"Injil Matius pertama dalam bahasa Melayu yang dicetak pada
tahun 1629 merupakan peristiwa penting, sebab inilah terjemahan dan
terbitan bagian Alkitab yang pertama dalam bahasa non-Eropa untuk
kepentingan penginjilan".
Karya Ruyl yang langka ini sekarang disimpan di Wurttenbergische
Landeshibliothck di Stuttgart, Jerman dan British Museum di London,
Inggris. Pada bagian akhir dari terbitan ini dimuat juga Sepuluh
Perintah Allah, Nyanyian Zakharia, Nyanyian Malaikat, Nyanyian
Maria, Nyanyian Simeon, Pengakuan Iman Rasuli, beberapa petikan
Mazmur, Doa Bapa Kami, dan beberapa doa lain.
Terjemahan
Seperti disepakati pada Sidang Raya Persekutuan Lembaga-Lembaga
Alkitab Sedunia (UBS) di Mississauga, Ontario, Kanada, pada tanggal
26 September - 3 Oktober 1996, bahwa lembaga-lembaga Alkitab bekerja
sama dengan badan-badan Kristiani lainnya memprogramkan agar pada
tahun 2010 tersedia:
Terjemahan Alkitab lengkap dalam bahasa yang mudah dipahami bagi
bahasa yang penuturnya lebih dari 500.000 orang.
Terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa yang mudah dipahami bagi
bahasa yang penuturan lebih dari 250.000 orang.
Terjemahan salah satu bukti dari Alkitab dalam bahasa yang mudah
dipahami bagi bahasa yang penuturnya lebih dari 100.000 orang.
Penerjemahan Alkitab ke dalam daerah itu sangat penting artinya
untuk memperluas jaringan pembacaa Kitab Suci sehingga kabar suka
cita itu dapat dipahami dengan lebih baik oleh para pembaca dari
daerah-daerah tersebut. Pada tahun 2002 telah diterbitkan Alkitab
dalam bahasa daerah Tobelo, Banggai, Saluan dan untuk Perjanjian
Baru bahasa Siau, Bima, Galela.
Hal yang sangat mendasar untuk digarisbawahi dalam penerjemahan ke
dalam bahasa daerah itu adalah wawasan dan pemahaman yang luas dari
masyarakat untuk melihat bahasa sebagai alat komunikasi antarmanusia
yang absah dipakai olah siapapun. Tak boleh ada pemahaman bahwa
Alkitab tidak layak diterjemahkan ke suatu bahasa daerah karena
bahasa daerah tersebut dianggap hanya dipakai oleh suatu kelompok
agama tertentu saja.
Dalam rangka mengembangkan progam-program LAI ke masa depan,
khususnya dalam mengantisipasi berbagai perubahan dalam era
industrialisasi yang maju dan modern, LAI memodernisasi gedung serta
alat-alat percetakannya, memperbesar program penerjemahan serta
mencari bentuk-bentuk pelayanan yang baru yang lebih memopulerkan
isi Alkitab kepada masyarakat luas, termasuk penyediaan Alkitab
melalui penggunaan teknologi informasi.
Lembaga Alkitab Indonesia dalam usia 49 tahun akan terus mengukir
karya terbaik bagi Umat Kristen Indonesia, bahkan bagi masyarakat
dan bangsa. Sebagai penyedia Alkitab, "pasar" yang
dihadapi LAI tidak akan pernah berubah, bahkan akan terus bertambah.
Konteks Indonesia dengan kereligiusan masyarakat yang kuat adalah
konteks yang dinamik sekaligus terbuka dan akomodatif terhadap
produk-produk LAI.
Peringatan ulang tahun ke-49 LAI harus mendorong gereja-gereja dan
umat Kristen makin menyatukan potensi agar sumber daya dan dana
pelayanan LAI lebih terkonsolidasi seingga mampu membantu LAI dalam
pelaksanaan programnya.
Gereja-gereja amat menyadari bahwa di Indonesia hanya LAI
satu-satunya lembaga yang terjemahannya didukung dan diakui oleh
umat Protestan dan Katolik serta oleh berbagai denominasi sehingga
hanya Alkitab terjemahan LAI yang dipakai dalam pelayanan
gereja-gereja di Indonesia.
Gereja-gereja, masyarakat, dan bangsa Indonesia selama 49 tahun
telah merasakan betapa pentingnya pelayanan yang dilakukan oleh
lembaga Alkitab Indonesia. Madah syukur dan pujian kepada Tuhan
layak dikidungkan menapaki hari-hari di masa depan, seiring dengan
itu peningkatan pelayanan akan menjadi komitmen LAI bagi gereja dan
Masyarakat Indonesia!
* Penulis adalah Sekum Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia.
(Sinar Harapan 280203)
|