Membakar Jakarta

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Beberapa hari saya berada di Jakarta. Berkeliling naik motor dan merasakan penatnya Jakarta…kembali. Dulu saya pernah ikut penelitian di Jakarta cukup lama, di sebuah daerah kumuh dan itu membuat saya tidak begitu ingin berada lama di Jakarta. Sekali-sekali saya masih ke Jakarta untuk menjalankan tugas. Tapi kali ini adalah yang terlama. Begitu merasakan panasnya dan sumpeknya, saya langsung teringat lagu "Membakar Jakarta" dari grup musik Seringai—kalau anda tidak tahu lagu ini, tidak usah dipikir he…he…

Saya menginap di sebuah kost-kost-an sempit dan berjubel yang penghuni satu dengan lainnya hampir tidak pernah bertemu. Karena pagi-pagi sudah tidak kelihatan dan malam entah pulang jam berapa. Aneh saja bagi saya karena di kampung terbiasa ada yang menyapa. Tapi inilah katanya membanting tulang bekerja untuk hidup dan ini adalah sebagian dari iman. Karena celakalah orang yang tidak bekerja, begitu terjemahan saya atas petunjuk Paulus. (Benarkah harus menjadi asosial dan terkurung untuk itu?).

Tapi saya mengalami suatu ilusi yang lain. Kegiatan saya tidak begitu menuntut bangun pagi. Jadi saya  bangun siang dan mendapati sebuah Jakarta yang tetap malas dengan beberapa orang yang terlihat bengong karena tidak bisa terlibat dalam ketergesa-gesaan. Di sisi lain ketergesa-gesaan yang dimitoskan ternyata tidak dengan sendirinya menuntaskan berbagai masalah. Buktinya saya berangkat sedikit agak siang dan tidak stres tergesa-gesa, selisih saya sampai di tujuan yang sama hanya berselang setengah jam. Hanya bagi orang Jakarta, setengah jam adalah penting karena itu berarti terlambat dan potong gaji. Padahal untuk kinerja, belum tentu setengah jam itu digunakan dengan baik dan benar. Apa saya salah ya atau memang saya terlalu ndeso sehingga tidak memahami mengapa tergesa-gesa? Saya bertemu dengan bos di salah satu kantor, pertemuannya langsung, to the point, dan menurut saya efektif dan efisien.

Akhirnya tibalah acara makan siang. Saya diajak ke sebuah warung oleh teman yang lain, bukan bos tadi. Kami membeli nasi dan lauk dan ini ilusi yang lain. Harganya hampir sama dengan harga di Jogja. Teman saya bilang, “Makan mahal itu hanya ilusi di Jakarta Mas. Kalau ke Mal ya mahal. Tapi kalau tahu tempat ya murah”. Hanya, ada yang nyeletuk, mungkin gizi dan kebersihannya barangkali tidak terjamin.  Tapi apa iya ya, saya makan memakai ayam kok, atau ayamnya ayam mati kali ya?

Jangan-jangan selama ini Jakarta memang dimitoskan untuk mahal dan bergengsi, sehingga citra dan pamornya naik. Elegan dan modern. Begitulah kesannya. Di masa global seperti ini citra metropolitan memang perlu dan identitas terus dibangun untuk itu. Apalagi Jakarta adalah kota internasional. Maka akan sangat menyenangkan ketika di desa bercerita, “Wah di Jakarta apa-apa mahal… keras… berkelas…” Bukankah itu citra keberhasilan? Bisa membeli yang mahal dan menang dari suatu peperangan yang keras.

Tapi saya lihat memang ilusi itu ada dan menjadi realita tersendiri yang dibangun terus sehingga menjadikan orang-orang di dalamnya bersekolah dalam realita ilusi itu sendiri untuk tergesa-gesa dan makin menjauh dari realita dan menjadi hiper realitas.

Bukankah dengan demikian Jakarta terus dibakar menjadi makin panas oleh penghuninya? Karena kekerasan akan terus dijaga dan ketergesa-gesaan yang membuat panas adalah budaya dan sekolah itu sendiri. Dan tergopoh-gopoh serta stresslah mereka yang tidak siap dengan semua itu. Karena pendidikan kita pada dasarnya tidak menyiapkan orang untuk bersaing seperti di Jakarta. Pendidikan kita hanya menghapal kalau Jakarta adalah ibu kota, tanpa tahu sense apa yang ada di sana. Jadinya urbanisasi terjadi bukan karena ada daya tarik industri dan dengan kesadaran serta bekal untuk bersaing. Akan tetapi karena tidak tahu mau apa di desa dan sekolah tidak menyiapkan apapun untuk urbanisasi itu. Yang terjadi hanya pemindahan penduduk tanpa arah dan tujuan dan akhirnya menumpuk menjadi makin panas.

Maka saya setuju dengan kata ngawur teman saya, “Kalau aku jadi presiden mudah saja menyelesaikan permasalahan Jakarta , pindahkan sebagian besar orang ke daerah lain, biar Jakarta kembali bisa mendukung siapa yang hidup di dalamnya—karena bentuk geografsinya seperti mangkok katanya—Dan sekolah harus disadarkan untuk lebih tahu potensi lokal.”
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."